• Home
  • Internasional
  • Ilmuan Togo Impor Sampah Sekitar 500.000 Ton Pertahun Dari Seluruh Dunia

Sampah Disulap Menjadi Robot,

Ilmuan Togo Impor Sampah Sekitar 500.000 Ton Pertahun Dari Seluruh Dunia

Mtc Senin, 03 Desember 2018 19:17 WIB
google
Penemu di Togo memiliki cara inovatif memanfaatkan sampah elektronik
MATATELINGA: Republik Togo mengimpor sekira 500.000 ton sampah elektronik setiap tahun. Beberapa di antaranya berbahaya bagi kesehatan, tapi juga kemudian menginspirasi para peneliti lokal dan menciptakan lapangan kerja, seperti dilaporkan Waihiga Mwaura.


Bentuknya mirip laba-laba, begitu pun pergerakannya. Jangan salah, mahluk robotik itu tak bisa dianggap sebagai mainan belaka.

Robot laba-laba itu menjadi simbol revolusi digital yang tengah bergerak di salah satu negara terkecil di Afrika Barat tersebut.

"Saya membuatnya dari mesin cetak 3D bekas," ujar Ousia Foli-Bebe sambil menunjuk robot laba-labanya.

"Plastik dari mesin printer tadi saya jadikan lengan dan kakinya. Saya juga membuat mesin cetak 3D dari sampah elektronik. Saya sendiri belajar cara membuat printer dari internet," tambahnya.

Foli-Bebe membawa robot laba-labanya itu ke sekolah-sekolah untuk menarik minat siswa dalam bidang sains dan daur ulang.

"Cita-cita saya membuat perangkat sains agar mereka bisa mulai menciptakan karya sendiri dan membantu menyelesaikan berbagai permasalahan masyarakat," ungkapnya.

Laboratorium Ecotec-nya terletak di Amadanhome, di pinggiran ibukota Togo, Lomé.



Tempatnya sangat sederhana, dengan papan tulis memenuhi satu sisi dinding, dan mesin cetak 3D di dinding seberangnya.

Foli Bebe, pria yang berusia 29 tahun ini, adalah satu di antara sejumlah pengusaha muda yang melihat peluang dari sampah elektronik yang diimpor Togo.

Lembaga pelestarian lingkungan lokal E-Waste Centre memperkirakan 500 ribu ton sampah masuk ke Togo setiap tahunnya.

Di luar laboratoriumnya terserak beragam jenis televisi dan perangkat elektronik bekas di lahan seluas lapangan tenis. Ini mempermudah dirinya mendapatkan berbagai perangkat untuk proyek inovasinya.



Foli-Bebe pun berbagi lahan dengan pendaur ulang sampah elektronik lain. Ia mengaku bahwa ia banyak belajar tentang daur ulang dari orang lain, seperti Gnikou Afate, yang disebutnya sebagai pencipta mesin printer 3D daur ulang pertama di Togo.

Yang lebih mengesankan, mesin cetak buatan Afate berhasil menjadi juara pertama dalam konferensi Teknologi Fabrikasi Barcelona tahun 2015 silam.

Penemu berusia 39 tahun yang sebelumnya pernah berkolaborasi dengan pusat pengembangan teknologi bernama Woelab - salah satu yang terbaik di sana - baru-baru ini membuka laboratorium kecilnya sendiri di samping rumahnya.

'Tambang emas' baru

"Pada awalnya, sampah elektronik adalah bencana - itu cara kami menggambarkannya dulu," ujar Afate dengan suara lembutnya.



"Jalanan kami diseraki perangkat komputer bekas yang lalu rusak. Tapi kini masalah itu justru berubah menjadi sebuah peluang. Sampah elektronik kami anggap seperti tambang emas."

Hanya 41 negara di dunia - kebanyakan di Eropa - yang melakukan pendataan terhadap sampah elektronik, menurut laporan The Global E-waste Monitor.

Menurut laporan tersebut, pada tahun 2016, orang-orang di seluruh dunia membuang 44 juta ton sampah elektronik.

Telepon genggam bekas, laptop, TV, dan generator listrik memenuhi mobil van dan truk yang keluar dari pelabuhan Lomé.

Mereka menggelar lapak di pasar di dekat pelabuhan di mana para pembeli berkumpul.



Meningkatnya kebutuhan akan teknologi telah menciptakan pasar, di mana orang-orang yang ingin membeli barang elektronik bekas saling tawar-menawar.

Bukan hanya permintaan atas barang elektronik bekas yang menarik minat para pembeli, melainkan juga ketidak-sanggupan negara-negara kaya untuk mendaur ulang.

Organisasi seperti Basel Action Network khawatir bahwa negara-negara barat sebenarnya hanya tidak becus menangani sampah elektronik mereka, dan sengaja membiarkannya berakhir di kapal-kapal kargo yang akan membawa itu semua ke Afrika Barat dan negara-negara lainnya.

"Negara-negara lain tak tahu apa yang harus diperbuat dengan sampah elektronik yang mereka hasilkan, dan Afrika memiliki lingkungan terbaik untuk menjadi lokasi pembuangan," ujar aktivis Youth for the Environment Togo, Sena Alouka.



"Kami memiliki kerangka regulasi yang lemah, institusi yang lemah, juga korupsi, yang turut menyumbang terhadap arus perpindahan sampah elektronik ini. Kami perlu meniru Thailand yang mengancam akan mengerahkan pasukan militernya demi melarang impor sampah elektronik."

Meskipun ekspor barang bekas ke negara lain tidak menyalahi hukum internasional, masalah muncul jika barang-barang tersebut ternyata sudah tidak bisa digunakan, seperti yang tertulis dalam beberapa perjanjian, di antaranya konvensi Basel dan Bamako.

Konvensi Bamako, yang diberlakukan tahun 1998, mewajibkan negara-negara Afrika untuk melarang kegiatan impor sampah berbahaya, termasuk zat-zat radioaktif.

Perjanjian tersebut juga mendorong negara-negara Afrika mengesahkan undang-undang untuk mengontrol impor barang-barang cacat atau hampir kadaluwarsa dengan menjadikannya sebagai sampah berbahaya.



"Bayangkan satu set televisi - itu semua mengandung kadmium, timah, dan berilium :semuanya mengandung racun dan sangat berbahaya bagi manusia dan lingkungan," ujar Alouka.

"Bisa saja zat-zat tersebut mencemari air yang mengalir ke lautan. Sementara kita makan ikan. Zat-zat tadi mengandung merkuri dan banyak lainnya. Itu sangat berbahaya bagi kesehatan kita, terutama bagi anak-anak kita."

Meski demikian, kini, upaya untuk mengatur sampah elektronik justru menjadi tantangan, sebab banyak hidup warga yang bergantung padanya.

"Jika Anda perhatikan ragam sampah yang masuk ke sini, banyak di antaranya sangat berbahaya dan beracun, sehingga kita harus mengevaluasi dengan cermat dampak ekonomi yang bisa ditimbulkannya terhadap lingkungan kita," tukas pengusaha daur ulang Hervé Tchamsi dari E-Waste Centre.



Tchamsi mengatakan, timnya mencoba untuk meminimalisir paparan zat-zat berbahaya sampah elektronik terhadap mereka. Ia berharap cara yang dilakukannya bisa diberlakukan juga di seluruh Togo.

Dikirim kembali ke Eropa

Untuk saat ini, benda-benda yang tak bisa didaur ulang, mereka kembalikan ke Eropa, tempat dari mana sampah-sampah elektronik ini berasal.

"Itu televisi-televisi yang mengandung zat-zat berbahaya. Kami harus merogoh kocek untuk mengirimkannya kembali ke Belgia untuk didaur ulang - karena di sini kami tidak mampu mendaur ulang itu semua dengan aman," jelasnya.

Di negara dengan lapangan kerja yang terbatas bagi anak mudanya, industri ini menawarkan potensi lapangan kerja yang luar biasa.

Para penemu dan pengusaha mencoba mencari solusi yang tepat, yang dapat memaksimalkan potensi tersebut sekaligus memitigasi bahaya yang ditimbulkan.

(Mtc/Okz)
Editor: fjr

Sumber: Okezone

T#g:blibliciptakan robot dari sampahdisulap menjadi robotilmuan togoimpor sampah elektronik dari seluruh duniaMatatelingarepublik togoTerkini
Komentar
Minggu, 18 Agu 2019 08:00Nasional

WASI Pecahkan Rekor Kibarkan Merah Putih di Bawah Laut

Pengibaran bendera Merah Putih seluas 1.014 meter persegi yang dilakukan oleh Wanita Selam Indonesia (WASI) di dasar Teluk Manado

Minggu, 18 Agu 2019 07:45Lifestyle

Kisah Saat Allah Menegur Sahabat Rasulullah

Imam Ibnu Katsir merujuk pada asbabun nuzûl (latar sejarah turunnya) ayat tersebut. Dalam sebuah kitab Tafsîr al-Qur’ân al-‘Adhîm-nya Imam Ibnu Katsir

Minggu, 18 Agu 2019 07:30Bola

Kontra Malaysia, Timnas Indonesia Kalah Lagi

Semifinal Piala AFF 2019, Sabtu 17 Agustus sore WIB. Tim Nasional (Timnas) Indonesia

Minggu, 18 Agu 2019 07:00Nasional

Geger, Upacara HUT RI Sedang Berlangsung, Warga Panjat Tiang Bendera

Upacara Hari Ulang Tahun Ke-74 RI di Lapangan Arena Ex MTQ, Kecamatan Tengah Ilir

Minggu, 18 Agu 2019 06:30Bola

Pekan Pertama Liga Spanyol 2019-2020, Berikut Hasil Pertandingannya

Pekan pertama Liga Spanyol 2019-2020 pada Sabtu 14 Agustus 2019. Sejumlah pertandingan menarik tersaji hingga Minggu (18/8/2019) dini hari WIB

Minggu, 18 Agu 2019 06:00Nasional

Peristiwa 18 Agustus: Soekarno-Hatta Jadi Presiden-Wapres RI Pertama Hingga UUD 1945 Disahkan

Pierre Jules César Janssen merupakan seorang astronom Prancis, yang bersama dengan ilmuwan Inggris Joseph Norman Lockyer, diakui sebagai penemu gas helium

Sabtu, 17 Agu 2019 23:30Nasional

Kibarkan Bendera Merah Putih, Tentara Malaysia Ikut Serta

Rasa persatuan di hari kemerdekaan RI ini bahkan tidak hanya dirasakan warga negara Indonesia

Sabtu, 17 Agu 2019 23:15Nasional

Mapolsek Wonokromo di Serang

Pasca penyerangan terhadap dua anggota Polsek Wonokromo, IM (30) warga asal Madura

Sabtu, 17 Agu 2019 23:00Bola

Luis Suarez Alami "Ganguan"

Luis Suarez Harus absen untuk waktu yang belum bisa ditentukan lantaran menderita cedera,

Sabtu, 17 Agu 2019 22:45Bola

Laga di Markas Southampton, Liverpool Raih Poin Penuh

Pada pekan kedua Liga Inggris 2019-2020, Sabtu (17/8/2019) malam WIB. Liverpool berhasil membawa pulang poin penuh dari markas Southampton

Sabtu, 17 Agu 2019 21:29Berita Sumut

Satu Begal Beraksi di Bandar Khalifah Tewas dihajar Massa

Satu orang kawanan begal saat beraksi di Jalan Pringgan/Jalan Bejo tepatnya di samping Gang Ridho Desa Bandar Khalipah, Kecamatan Percut Seituan, Kabupaten Deliserdang, tewas dihajar massa, Sabtu (17/8/2019) dini hari.

Sabtu, 17 Agu 2019 21:09Berita Sumut

Nuansa kebersamaan antara Kodam I/BB dengan masyarakat dalam perlombaan

Dalam menyambut dan memeriahkan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Kodam I/BB menggelar berbagai macam perlombaan, pada Sabtu (17/8/) 2019 di Lapangan bola Makodam I/BB Jalan Gatot Subroto Km 7,5 Medan.

Sabtu, 17 Agu 2019 20:54Berita Sumut

Kepala Kepolisian Sumut Menjadi Irup HUT ke 74 RI

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Adrianto menjadi Inspektur Upacara (Irup) peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-74 tahun, bertempat di Lapangan KS Tubun Mapolda Sumut Sabtu (17/8/2019).

Sabtu, 17 Agu 2019 20:39Berita Sumut

Momen 17 Agustus Menjalin Kekompakan Antara Karyawan Dan Pimpinan

PT. Best Profit Futures merayakan hari jadi ke 74 Indonesia, pada momen 17 Agustus tersebut berjalan meriah yang berlangsung di depan halaman kantor PT BPF Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Sabtu (17/8/2019).

Sabtu, 17 Agu 2019 20:24Berita Sumut

Pemko Medan Ikut Meriahkan Pawai Pembangunan

Pemko Medan ikut pawai pembangunan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara guna memeriahkan peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2019

Sabtu, 17 Agu 2019 20:09Berita Sumut

Ribuan Peserta Antusias Ikut Pawai Obor

Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi MH diwakili Asisten Pemerintahan Setdako Medan Musaddad NasutIon mengikuti pawai obor yang digelar dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-74 tahun 2019