• Home
  • Internasional
  • Kedok Pernikahan, Perempuan-Perempuan Pakistan Dijadikan Budak Seks

Kedok Pernikahan, Perempuan-Perempuan Pakistan Dijadikan Budak Seks

Mtc Kamis, 16 Mei 2019 06:45 WIB
GOOGLE
Ilustrasi
MATATELINGA: Enam bulan yang lalu, Sophia (bukan nama sebenarnya) yang merupakan seorang perempuan Kristen dari Pakistan, melangsungkan pernikahan dengan seorang pria Kristen asal China di kota Faisalabad, Pakistan timur.



Pernikahan tersebut terlihat sempurna dan menunjukkan keduanya pasangan yang serasi.

Sophia, 19 tahun, bekerja di sebuah salon kecantikan. Adapun calon suaminya yang berusia 21 tahun adalah pedagang alat-alat kecantikan.

Orang tua Sophia tidak punya cukup uang untuk membiayai perkawinan tersebut, namun dari pihak calon suaminya bermurah hati menawarkan seluruh biaya pernikahan.

Prosesi pernikahan berlangsung sesuai dengan adat orang Pakistan, yang tentu saja membuat orang tua Sophia senang karena calon suaminya yang berasal dari China menghormati tradisi setempat.

Seperti biasa ada proses lamaran, dilanjutkan dengan upacara pemakaian daun pacar "henna" dan terakhir "baraat". Tradisi itu meliputi tiba di rumah pengantin perempuan, melakukan akad nikah, lalu pengantin perempuan pergi untuk memulai kehidupan baru dengan suaminya.

Namun hanya dalam waktu sebulan, Sophia kembali lagi ke rumah orang tuanya. Ia melarikan diri dari apa yang ia yakini saat ini adalah upaya penipuan yang memperdagangkan perempuan-perempuan Pakistan ke dalam perbudakan seksual di China.



Saleem Iqbal, seorang pegiat HAM Kristen yang menelusuri perkawinan semacam itu mengatakan, dirinya meyakini ada sekitar 700 perempuan, kebanyakan Kristen, telah menikahi pria-pria China hanya dalam waktu satu tahun.

Apa yang terjadi pada banyak perempuan ini tidak diketahui, tetapi Human Rights Watch mengatakan mereka "berisiko mengalami perbudakan seksual".pernikahan

Dalam beberapa minggu terakhir, puluhan warga China dan beberapa penghubung dari Pakistan, termasuk setidaknya satu pendeta Katolik, ditangkap terkait dengan dugaan pernikahan palsu.

Badan Investigasi Federal Pakistan (FIA) mengungkapkan kepada BBC bahwa "kelompok-kelompok kriminal China memperdagangkan para perempuan Pakistan dan "menyamarkannya" dengan perkawinan lalu dimasukkan ke dalam perdagangan seks".

Dikatakan dalam satu kelompok beberapa pria berperan sebagai insinyur di sebuah proyek pembangkit listrik sambil mengatur pernikahan dan mengirimkan uang dengan kisaran mulai US$12.000 (atau Rp173 juta) sampai US$25.000 (atau Rp361 juta) kepada setiap perempuan di China.

Perempuan-perempuan Kristen - yang sebagian besar berasal dari kalangan orang-orang miskin dan terpinggirkan - tampaknya menjadi sasaran utama para pelaku perdagangan manusia, mereka membayar uang ratusan juta kepada para orangtuanya.

China membantah bahwa perempuan-perempuan Pakistan itu diperdagangkan untuk kemudian dijerumuskan ke dalam industri pelacuran. Mereka mengatakan "beberapa media telah mengarang laporan dan menyebarkan rumor tersebut".



Namun pada pekan ini pihaknya mengakui jumlah calon pengantin perempuan Pakistan yang mengajukan visa tahun ini mengalami lonjakan - ada 140 pengajuan visa pada tahun ini, jumlah yang sama dengan tahun lalu. Seorang pejabat dari kedutaan China di Islamabad mengatakan kepada media setempat pihaknya telah memblokir setidaknya 90 pengajuan visa.

'Masyarakat yang tidak seimbang'

Meningkatnya kasus-kasus yang diduga memperdagangkan perempuan dari Pakistan ke China telah terjadi di tengah gelombang masuknya puluhan ribu warga negara China ke negara itu.

China menginvestasikan miliaran dolar dalam proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC) (CPEC), untuk pembangunan jaringan pelabuhan, jalan, kereta api, dan proyek-proyek energi.

Kedua negara tersebut adalah sekutu dekat dan kebijakan visa-on-arrival untuk warga negara China juga telah mendorong para pengusaha dan profesional yang tidak terkait langsung dengan proyek CPEC ini turut serta membanjiri Pakistan.

Namun ada juga beberapa warga China yang diyakini sengaja bepergian ke Pakistan untuk mencari calon istri.

Para peneliti mengatakan bahwa warisan kebijakan satu anak yang diterapkan di China selama satu satu dasawarsa disertai preferensi sosial untuk anak laki-laki telah menciptakan masyarakat yang tidak seimbang, di mana jutaan pria tidak dapat menemukan istri.



Selama bertahun-tahun hal ini telah memicu perdagangan perempuan dari beberapa negara Asia yang miskin, termasuk Vietnam, Myanmar dan Kamboja - di mana para pegiat mengatakan banyak perempuan dijanjikan pekerjaan di China namun kemudian dijual lewat pernikahan palsu.

Tampaknya jalan masuk yang begitu mudah ke Pakistan telah menciptakan titik baru berupa perdagangan manusia.

Investigasi FIA dan wawancara BBC dengan para pegiat dan penyintas menunjukkan bahwa beberapa ulama Pakistan memainkan peran dalam mengidentifikasi para pengantin perempuan dan mengesahkan kredensial agama dari warga China yang ingin meminang para perempuan tersebut.

Usai melangsungkan pernikahan, para pasangan ini tinggal di sejumlah bungalow yang disewa oleh para pelaku perdagangan manusia di Lahore dan kota-kota lainnya. Dari sana, mereka dikirim ke China.

Sebuah rumah di Lahore

Sophia mulai merasa tidak nyaman dengan pernikahannya sebelum hal itu terjadi. Ia harus menjalani tes medis sebelum resmi dilamar, lalu sang perantara mendorongnya agar cepat-cepat menikah.

"Keluarga saya tidak nyaman karena merasa terburu-buru, namun si perantara mengatakan China akan membayar seluruh biaya pernikahan kami," katanya. Keluarga pun menyerah.

Seminggu kemudian ia berada di sebuah rumah di Lahore bersama beberapa pasangan pengantin baru yang sedang menunggu dokumen perjalanan mereka untuk diproses. Para perempuan Pakistan ini menghabiskan sebagian besar waktu mereka belajar bahasa China.



Pada titik inilah ia mengetahui bahwa suaminya bukan seorang Kristen, dan ia juga tidak berminat untuk berkomitmen terhadap dirinya. Mereka hampir tidak bisa berkomunikasi karena kendala bahasa, tetapi ia berulang kali menuntut hubungan seks.

Sophia memutuskan untuk pergi setelah berbicara dengan seorang temannya yang telah pindah ke China untuk menikah. Ia mengatakan kepada Sophia bahwa ia dipaksa berhubungan seks dengan teman-teman suaminya,

Namun saat Sophia mengungkapkan isi hatinya kepada sang perantara, ia sangat marah. Si perantara mengatakan orang tuanya harus membayar kembali biaya pernikahan, termasuk biaya yang dibayarkan kepada pendeta setempat untuk mengatur perjodohan dan melakukan upacara pernikahan.

Orang tuanya menolak untuk membayar kembali dan pergi ke Lahore untuk menyelamatkannya. Sang perantara akhirnya menyerah.

Meski baru-baru ini polisi memusatkan perhatian dan melakukan penggerebekan terhadap perdagangan perempuan-perempuan muda Kristen yang miskin, namun BBC menemukan bahwa komunitas Muslim juga terpengaruh.

Seorang perempuan Muslim dari lingkungan miskin di Lahore yang pergi ke China bersama suaminya pada bulan Maret mengatakan, ia harus menghadapi penganiayaan fisik berulang-ulang karena ia menolak tidur dengan "beberapa pengunjung yang mabuk".

"Keluarga saya cukup religius, jadi mereka menyetujui lamaran itu karena mereka membawa pendeta yang ada di lingkungan kami," tutur Meena (bukan nama sebenarnya).



"Namun begitu sampai di China, saya mendapati suami saya ini bukan seorang Muslim. Bahkan ia tidak menganut agama apa pun. Ia mengolok-olok saya ketika saya berdoa."

Ketika ia menolak berhubungan seks dengan pria-pria atas perintahnya, ia dipukuli dan diancam.

"Ia mengatakan telah membeli saya dengan uang dan saya tidak punya pilihan selain melakukan apa yang ia perintahkan; dan jika saya tidak melakukannya, maka ia akan membunuh saya dan menjual organ tubuh saya untuk mendapatkan kembali uangnya."

'Beberapa penjahat'

Meena diselamatkan pada awal Mei oleh otoritas China atas permintaan pejabat kedutaan Pakistan yang telah diperingatkan oleh keluarganya.

Seorang pejabat senior FIA di Faisalabad, Jameel Ahmed Mayo, mengatakan kepada BBC bahwa para perempuan yang dianggap "tidak cukup baik" untuk perdagangan seks berisiko diambil organ tubuhnya.

FIA belum memberikan bukti untuk menguatkan tuduhan itu dan Beijing dengan tegas membantah praktik seperti itu terjadi.

"Menurut penyelidikan yang dilakukan oleh Kementerian Keamanan Publik China, tidak ada prostitusi paksa atau penjualan organ manusia di kalangan perempuan Pakistan yang tinggal di China setelah menikah dengan laki-laki asal China," sebut sebuah pernyataan kedutaan besar China di Islamabad.



Namun, hal itu menekankan bahwa penyelidikan bersama dengan pihak berwenang Pakistan sedang berlangsung, menambahkan: "Kami tidak akan pernah membiarkan beberapa kriminal merusak persahabatan antara China dan Pakistan atau melukai perasaan persahabatan antar kedua negara."

(Mtc/Okz)
Editor: FJR

Sumber: Okezone

T#g:blibliBudak SeksinternasionalKedok PernikahanMatatelingaTerkini
Komentar
Sabtu, 17 Agu 2019 20:54Berita Sumut

Kepala Kepolisian Sumut Menjadi Irup HUT ke 74 RI

Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Adrianto menjadi Inspektur Upacara (Irup) peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan RI ke-74 tahun, bertempat di Lapangan KS Tubun Mapolda Sumut Sabtu (17/8/2019).

Sabtu, 17 Agu 2019 20:39Berita Sumut

Momen 17 Agustus Menjalin Kekompakan Antara Karyawan Dan Pimpinan

PT. Best Profit Futures merayakan hari jadi ke 74 Indonesia, pada momen 17 Agustus tersebut berjalan meriah yang berlangsung di depan halaman kantor PT BPF Jalan Perintis Kemerdekaan Medan, Sabtu (17/8/2019).

Sabtu, 17 Agu 2019 20:24Berita Sumut

Pemko Medan Ikut Meriahkan Pawai Pembangunan

Pemko Medan ikut pawai pembangunan yang diselenggarakan Pemerintah Provinsi Sumatera Utara guna memeriahkan peringatan HUT ke-74 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2019

Sabtu, 17 Agu 2019 20:09Berita Sumut

Ribuan Peserta Antusias Ikut Pawai Obor

Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi MH diwakili Asisten Pemerintahan Setdako Medan Musaddad NasutIon mengikuti pawai obor yang digelar dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia ke-74 tahun 2019

Sabtu, 17 Agu 2019 19:54Berita Sumut

Gojek Hidupkan UMKM & Serap Hampir 2 Juta Tenaga Kerja

Pemko Medan sangat apresiasi serta mendukung penuh perayaan HUT ke-74 Republik Indonesia tahun 2019 yang diselenggarakan Gojek di Istana Maimun Medan

Sabtu, 17 Agu 2019 19:47Nasional

Ikut Upacara HUT RI, Wapres JK Berpakaian Adat Aceh

Upacara HUT ke 74 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Merdeka, Jakarta jadi ajang promosi pakaian adat nusantara. Jika Presiden Jokowi mengenakan pakaian adat Klungkung, Bali, Wakil Presiden Jusuf Kalla tampak gagah dalam balutan pakaian adat Aceh le

Sabtu, 17 Agu 2019 19:39Berita Sumut

Warga Jalan Karya Pasar IV Marindal -1 Siap Dukung Polri Berantas Narkoba

Masyarakat Jalan Karya Pasar IV Marindal-1 Kecamatan Patumbak Deli Serdang menyatakan siap mendukung Polri.khususnya Polsek Patumbak dalam hal pemberantasan narkoba. Hal itu terbukti ada bebera spanduk yang terpasang dengan tulisan "Warga Jalan Kary

Sabtu, 17 Agu 2019 19:13Berita Sumut

Upacara HUT ke-74 RI di Kota Binjai

Peringatan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke-74 berlangsung khidmat dan lancar, ratusan masyarakat terlihat memadati Lapangan Merdeka Binjai untuk menyaksikan pengibaran Bendera Merah Putih oleh Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra), Sabtu (17/8)

Sabtu, 17 Agu 2019 18:45Berita Sumut

Ini Kemeriahan Perayaan HUT RI di POS Medan

Setiap kali memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia yang dirayakan setiap tanggal 17 Agustus selalu ditunggu-tunggu di lingkungan sekolah PrimeOne School Medan, karena akan ada beberapa perlombaan yang digelar untuk memeriahkan

Sabtu, 17 Agu 2019 18:25Internasional

Hadang Demonstran, Militer China Berlatih Menggunakan Garpu Listrik

Militer China terlihat berlatih menggunakan perangkat garpu raksasa yang bertujuan untuk mengendalikan unjuk rasa yang berujung rusuh. Mengutip Mirror, Sabtu (17/8/2019) senjata tersebut diyakini bisa melancarkan listrik dalam upaya untuk meredam segala a

Sabtu, 17 Agu 2019 17:45Lifestyle

Ternyata, Zodiak Ini Merasa Lebih Bahagia saat Jomblo!

Saat usia muda, banyak orang berharap memiliki seorang atau sesosok pasangan. Mereka membutuhkannya karena beragam alasan, bisa karena mereka membutuhkan perhatian dari orang lain alias haus kasih sayang sehingga tak betah jadi jomblo.

Sabtu, 17 Agu 2019 17:38Berita Sumut

Irup HUT Kemerdekaan RI, Manajer Kebun Bukit Lima Apresiasi Pemanen

Dalam rangka pelaksanaan HUT ke 74 Kemerdekaan RI yang mengusung tema SDM Unggul Indonesia Maju, Unit Usaha Kebun Bukit Lima Kecamatan Bosar maligas, Simalungun sabtu (17/08) juga menggelar berbagai kegiatan perlombaan di lapangan bola kaki kebun,

Sabtu, 17 Agu 2019 17:23Berita Sumut

Peserta Upacara HUT Kemerdekaan ke 74 RI di Kabupaten Simalungun Kenakan Pakaian Adat

Pemerintah Kabupaten Simalungun menggelar upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ke 74 Republik Indonesia dengan memakai pakaian adat dari daerah asal masing-masing. Upacara dilaksanakan di Lapangan SLTP Negeri 1 Pamatang Raya, Kecamatan Raya, Si

Sabtu, 17 Agu 2019 17:08Berita Sumut

Ini Rangkaian Peringatan HUT ke 74 Kemerdekaan RI di Kabupaten Sergai

Plh. Bupati Sergai H Darma Wijaya memimpin Upacara Detik-Detik Proklamasi HUT ke-74 RI Tahun 2019 di Lapangan Bola Kaki Desa Firdaus Kec Sei Rampah, Sabtu (17/8). Peringatan detik-detik proklamasi dan pengibaran Bendera Merah Putih di Kabupaten Serdang Be

Sabtu, 17 Agu 2019 16:49Berita Sumut

Dolok Panjaitan Sumbang Rp 15 Juta Untuk Olahraga SIlaen

Dolok M Panjaitan menyumbang 15 juta rupiah untuk pembinaan sepakbola Kecamatan Silaen Kabupaten Toba Samosir. Sumbangan ini diberikan untuk membantu para pemain agar lebih bersemangat dalam permainan sepakbola.

Sabtu, 17 Agu 2019 15:44Berita Sumut

Meriahkan HUT RI, PTPN IV Kebun Gunung Bayu Gelar Berbagai Perlombaan

Manajemen PTPN IV Unit Usaha Kebun Gunung Bayu Kecamatan Bosar Maligas, Simalungun bersama PKS menggelar berbagai jenis perlombaan dalam rangka memeriahkan HUT ke 74 Kemerdekaan RI, Sabtu,(17/08).