• Home
  • Lifestyle
  • Hendak Meninggal Dunia Tapi Tetap Mempertahankan Harga Diri

Hendak Meninggal Dunia Tapi Tetap Mempertahankan Harga Diri

Mtc Kamis, 05 September 2019 07:00 WIB
Hand Over
Ilustrasi
MATATELINGA: Rupanya tempat yang kami tuju, Asisi Hospice di Singapura, merupakan tempat untuk pengobatan paliatif. Lantas, apa itu pengobatan paliatif? Nah, secara umum pengobatan biasanya bertujuan untuk menyembuhkan penyakit, tapi perawatan paliatif memiliki tujuan yang sedikit berbeda.





"Jadi kita akan belajar bagaimana cara meninggal tapi tetap mempertahankan harga diri". Penggalan kalimat dari salah satu staf Singapore International Foundation (SIF) tersebut memang cukup membuat alis saya terangkat. Apa maksudnya?

Perawatan paliatif adalah perawatan yang diberikan kepada pasien yang menderita penyakit kronis dengan stadium lanjut, bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien.

Peningkatan hidup dilakukan dengan cara pendekatan dari sisi psikologis, psikososial, mental serta spiritual pasien, sehingga membuat pasien lebih tenang, bahagia, serta nyaman ketika menjalani pengobatan, meskipun pada akhirnya pasien tersebut tetap akan meninggal.

Dengan kata lain, pengobatan paliatif adalah mempersiapkan pasien menghadapi kematiannya sendiri. Cukup terdengar tabu untuk orang Indonesia memang, karena siapa sih yang menginginkan anggota keluarganya meninggal? Tapi itulah kenyataan yang harus kita terima.

Lantas, bagaimana membuat mereka memiliki "harga diri" ketika meninggal? Nah, Head Communications and Community Engagement Asisi Hospice, Juliet Ng, menyebut bahwa kematian adalah hal yang tidak terhindarkan. Tapi yang menjadi masalah bukanlah penyesalan akan kematian itu sendiri, tetapi karena ketidakmampuan mereka.

"Masalah yang paling sering mereka katakan adalah, kenapa saya tidak berguna. Kenapa saya menjadi beban untuk keluarga?" jelas dia.

Nah, hal inilah yang kemudian akan ditanamkan pada orang-orang yang menderita sakit kronis tersebut. Dengan demikian, mereka akan lebih tenang dan menjalani sisa hidup dan tidak memiliki beban pikirian.

Juliet pun menekankan, pengobatan paliatif bukanlah cara untuk menyingkirkan orang yang memiliki sakit kronis, apalagi jika dibilang membuang uang. Menurutnya, orang-orang tersebut memang butuh penanganan ahli agar tidak merasakan sakit yang lebih parah.






"Jangan malah didiamkan. Sebagai contoh, kalau seorang ibu memiliki anak kecil, lalu ibu tersebut merasa kesakitan karena penyakitnya, maka hal itu akan membuat trauma pada sang anak. Akibatnya, psikologi anak tersebut akan tertekan," jelas dia.

Saat ini, hampir 75 persen pasien yang ikut merupakan penderita kanker stadium lanjut yang sangat sulit diobati. Berdasarkan data Asisi Hospice, sebanyak 27 persen dari pasien berusia 71-80 tahun, 25 persen berusia 81-90 tahun, 21 persen berusia 61-70 tahun, dan sebanyak 21 persen berusia 60 tahun ke bawah. Sedangkan 7 persen sisanya, berusia di atas 90 tahun.

Nah, untuk membantu para pasien tersebut, mereka pun memiliki perawat dan juga relawan yang mumpuni. Beroperasi dengan dana sekira 20 juta dolar Singapura per tahun, 60 persen dari biaya tersebut merupakan donasi, dengan 30 persen dari pemerintah, sisanya adalah "ongkos" dari para pasien yang dirawat, sebesar 10 dolar Singapura per hari, atau sekira Rp100 ribu.

Selain pengobatan, mereka pun akan diajarkan berbagai macam kegiatan, mulai dari menanam pohon sampai bermain berkelompok oleh para relawan.

Menurut Juliet, para relawan dan perawat yang menemani para pasien pun kerap mengalami kedekatan emosional dengan para pasiennya. Bahkan, ketika para pasiennya meninggal tidak jarang akan mengganggu mental para perawat.

Lantas bagaimana cara mereka berhadapan dengan kematian, terutama setelah mereka dekat dengan pasien? "Pertama, mereka selalu bekerja berkelompok dengan orang yang sama sepanjang waktu," katanya.

Jadi, ketika mereka merawat semua pasien, mereka pun akan mengadakan pertemuan medis, berdiskusi dengan dokter dengan pelayanan pastoral klinis, dan para pekerja sosial. Bahkan, tidak jarang konseling pun dibutuhkan ketika mereka berhadapan dengan kematian tersebut.

"Tentu mereka sangat emosional. Mereka akan menjadi emosional, terutama jika yang meninggal adalah anak kecil. Mereka akan menjadi sangat emosional," katanya.

Jika sudah begitu, para perawat tersebut pun bebas berkonsultasi dengan siapa pun yang mereka anggap bisa meringankan beban tersebut. Bahkan, jika mereka ingin berbicara dengan manager, mereka bisa langsung melakukannya.







"Tidak ada kita harus bicara hanya pada orang ini, tidak ada hal seperti itu. Bagi kami, ketika mereka menemukan orang yang Anda tepat, maka mereka bebas untuk meluapkan isi hatinya," jelas dia.

Manajer perawat pun berhak untuk mengajukan konseling terhadap perawat Junior kepada para penasihat. "Pekerja sosial kita sendiri, pun seorang profesional, konsultan yang berkualitas. Jadi sumber daya tak terbatas dan sumber daya eksternal tersedia untuk perawat kami," katanya.

Sayangnya, cara yang sama tidak bisa diterapkan untuk para relawan. Jika menyangkut para sukarelawan, maka hal yang paling pertama kali dilihat adalah mereka tidak mengizinkan anak kecil untuk merawat pasien, karena terlalu sulit. Mereka pun akan diberikan pelatihan satu setengah hari sebelum menjadi sukarelawan.

"Dan salah satu hal yang kami tekankah adalah apakah mereka bisa merawat diri sendiri? Jika mereka bisa merawat diri sendiri maka kami bisa meloloskannya," katanya.

"Nah, pernah ada kejadian, seorang wanita yang ingin menjadi sukarelawan. Tapi, ketika sesi wawancara tiba-tiba dia menangis. Jadi saya memberitahunya. Saya katakan, mungkin Anda harus kembali lagi lain kali," jelas Juliet.

"Karena salah satu keluarganya meninggal di sini. Dan dia ingin menjadi sukarelawan di sini. Tapi semua emosi itu kembali, dan dia mulai menangis ketika saya menceritakan kisah-kisah sedih tentang para pasien," tutur dia.

Mereka pun akan diberikan waktu istirahat hingga enam bulan, setelah menghadapi kejadian buruk tersebut. Yang pasti, konsultasi akan selalu diberikan pada mereka yang meminta.

Satu hal yang juga dikembangkan untuk mendukung bagaimana dapat meninggal dengan harga diri, adalah program "Tidak Ada yang Meninggal Sendirian".






"Jadi tidak ada yang meninggal sendirian. Kami memiliki pasien yang tidak memiliki dukungan keluarga. Jadi ketika mereka meninggal, tidak ada orang yang datang menemani mereka," katanya.

"Jadi, yang dilakukan relawan adalah mereka menemani pasien ini, dan kira-kira pada 72 jam terakhir pasien atau 48 jam terakhir. Mereka berada di sisi para pasien, menemani mereka di saat-saat terakhirnya," tambah dia.

Menurutnya, perawatan paliatif selalu tentang bagaimana kehidupan dan kematian adalah hal yang normal. Ya, setiap orang pasti akan mengakhiri hidupnya, tapi apa yang bisa kita lakukan di akhir hidup adalah pilihan, mau pasrah atau meninggal dengan harga diri?

(Mtc/Okz)
Editor: Fajar

Sumber: Okezone

T#g:blibliharga diriMatatelingameninggal duniaTerkinimatatelinga.commatatelinga com
Komentar
Jumat, 28 Feb 2020 22:43Berita Sumut

Pangdam I/BB dan Kapoldasu Kirim Tim Investigasi Usut Insiden Pahae

Pangdam I/BB, Mayjen TNI MS Fadhilah bersama Kapolda Sumut, Irjen Pol Martuani Sormin, menegaskan telah mengirim tim investigasi untuk mengusut insiden Pahae, Kabupaten Tapanuli Utara.

Jumat, 28 Feb 2020 22:33Nasional

Pertama di Indonesia, SMSI Raih Penghargaan MURI

Jumat, 28 Feb 2020 22:00Berita Sumut

Raker Anggota KONI Sumut Usung Prestasi Menuju PON 2020

Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagubsu) Musa Rajeckshah berharap pencapaian prestasi olahraga di ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) 2020 di Papua, bisa lebih baik dari pelaksanaan sebelumnya. Jika pada PON 2016 Sumut mampu menduduki peringkat sembilan,

Jumat, 28 Feb 2020 21:22Berita Sumut

Polsek Kotarih Berikan Sembako ke kaum Dhuafa

Kapolsek Kotarih di wakili oleh Kapos Pol Bintang Bayu Polsek Kotarih Polres Sergai Aiptu Harto Pardede bersama Bhabinkamtibmas Bripka H Bakkara memberikan sejumlah paket sembako kepada kaum dhuafa warga Dusun II Desa Ujung Negeri Hulu Kecamatan Bintang B

Jumat, 28 Feb 2020 21:00Berita Sumut

H.Surya Terima Audensi FKPLD Asahan

H.Surya selaku kepala Daerah Kabupaten Asahan menerima kedatangan unsur kepengurusan Forum Komonikasi Pendamping Lokal Desa (FK PLD) Kabupaten Asahan, kedatangan tersebut dalam rangkaian audensi dengan Bupati Asahan

Jumat, 28 Feb 2020 20:15Berita Sumut

Jumat Barokah, Kapolda Sumut Jalin Silaturahmi Dengan Masyarakat Mandala

Kapolda Sumut Irjen Pol. Drs. Martuani Sormin, M.Si didampingi Pejabat Utama Polda Sumut melaksanakan Safari Jumat Barokah di Masjid Al-Amin, Jalan Belibis Perumnas Mandala Kel. Kenangan Kec. Percut Sei Tuan, Jumat (28/02/2020)

Jumat, 28 Feb 2020 20:00Berita Sumut

Petani Desa Kacaribu Diamankan Sat Narkoba Polres Tanah Karo

Satuan Reserse Narkoba Polres Tanah Karo mengamankan seorang pria berinisial MJSS alias S (36) warga Desa Kacaribu, Kec. Kaban Jahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, Kamis (27/2/2020) sekitar pukul 17.30 wib dari salah satu lokasi di Desa Kacaribu.

Jumat, 28 Feb 2020 19:51Berita Sumut

Sidang Prapid Fenny Laurus Chen Baru Digelar, Haim Sebut Pemohon Kalah 2-0

Sidang permohonan Praperadilan (Prapid) Fenny Laurus Chen terhadap Kapolsek Percut Seituan Cq Kapolresta Medan Cq Kapolda Sumut digelar di ruang Cakra 7 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jumat (28/2). Dalam sidang dipimpin hakim tunggal Abdul Kadir itu berag

Jumat, 28 Feb 2020 19:18Berita Sumut

Ini Sikap Pangdam I/BB dan Kapoldasu Soal Insiden di Mapolsek Pahae Jae

Panglima Kodam I Bukit Barisan Mayjen Sabrar Fadhilah dan Kapolda Sumut Irjen Pol Martuani bertemu membahas tindak anarkistis yang terjadi di Kantor Polsek Pahae Jae Tapanuli Utara (Taput), Sumut, kemarin. Dalam peristiwa ini, sejumlah polisi terluka dan

Jumat, 28 Feb 2020 17:50Berita Sumut

Tabrakan Septor Sesama Pelajar, Satu Meninggal Dunia Dua Luka Ringan

Kecelakaan lalu lintas yang merenggut korban jiwa kembali terjadi. Kali ini melibatkan pelajar dan terjadi di Jalan Umum KM 7-8 Jurusan arah Simpang Parbeokan-Batu Lotung Huta VII Nabolak baru Nagori Buntu Turunan Kecamatan Hatonduhan, Kab.Simalungun, Kam

Jumat, 28 Feb 2020 17:35Berita Sumut

Septor Tanpa TNKB Tabrak Truk Colt Diesel, Dua Orang Luka Ringan

Sebuah sepeda motor (septor) mengalami kecelakaan lalu lintas dengan sebuah Mobil Mitsubhisi Colt Diesel di Jalan Umum Huta Gunung Nagori Tangga Batu Kecamatan Hatonduhan, Kab.Simalungun. Kamis (27/02/2020) sekira pukul 10.30 wib.

Jumat, 28 Feb 2020 17:20Berita Sumut

Akhyar Resmikan Masjid Baru Al Muttaqin Sidomulyo

Plt Walikota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi memotong pita dan nasi tumpeng tanda diresmikannya Masjid Al Muttaqin di Jalan Bunga Turi I, Kelurahan Sidomulyo, Medan Tuntungan, Jumat (28/2/2020).

Jumat, 28 Feb 2020 17:04Berita Sumut

Pangdam Pimpin Rapim Kodam I/BB TA 2020

Pangdam I/BB, Mayjen TNI MS Fadhilah memimpin sekaligus membuka secara resmi Rapat Pimpinan Kodam I/BB yang digelar di Balai Prajurit Makodam I/BB, Jln Gatot Soebroto Km 7,5 Medan, Jumat (28/2/2020).

Jumat, 28 Feb 2020 16:49Berita Sumut

Pemko Binjai dan Tokopedia Segera Jalin Kerjasama

Mewakili wali kota Binjai, Sekdako Binjai, M. Mahfullah P Daulay SSTP, M.Ap menerima audiensi Senior Publik Policy and Government Relation Tokopedia Arliska Fatma Rosi di ruangan Binjai Command Center (BCC), Jum'at (28/02/2020).

Jumat, 28 Feb 2020 16:30Berita Sumut

Jelang Liga 2, Stadion Teladan Dibenahi

Jelang pertandingan Liga 2 Indonesia 2020 yang akan kick- off 13 Maret mendatang, Pelaksana tugas (Plt) Wali Kota Medan Ir H Akhyar Nasution MSi meninjau Stadion Teladan Medan yang tengah dalam perbaikan

Jumat, 28 Feb 2020 16:00Berita Sumut

Polsek Medan Baru Hadiahkan Pencuri Handphone dengan Timah Panas

Seorang pelaku pencurian dihadiahi timah panas oleh personil Polsek Medan Baru. Pelaku berinisial SH alias Putra (27) terekam kamera CCTV saat mencuri handphone di kediaman Suwadi,(49) warga Jalan Sekip GG. Agus Salim Medan Petisah pada Minggu (23/2) lalu