Kisah Saat Allah Menegur Sahabat Rasulullah

Mtc Minggu, 18 Agustus 2019 07:45 WIB
Hand Over
Ilustrasi
MATATELINGA: Imam Ibnu Katsir merujuk pada asbabun nuzūl (latar sejarah turunnya) ayat tersebut. Dalam sebuah kitab Tafsīr al-Qur'ān al-'Adhīm-nya Imam Ibnu Katsir, tepatnya ketika menjelaskan ayat 22 Surat An-Nur. Allah berfirman (QS. An-Nur: 22):

وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ






"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Dalam kitab tafsīr Ibnu Katsīr, ayat di atas diturunkan karena sumpah yang diucapkan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq. Ketika itu, ia bersumpah untuk menghentikan bantuan nafkah kepada seorang kerabatnya karena terlibat menyebarkan berita bohong (hadītsul ifki) tentang Sayyidah 'Aisyah. Berikut riwayatnya:

وهذه الآية نزلت في الصديق-رضي الله عنه-حين حلف ألا ينفع مسطح بن أثاثة بنافعة بعدما قال في عائشة ما قال، كما تقدم في الحديث فلما أنزل الله براءة أم المؤمنين عائشة، وطابت النفوس المؤمنة واستقرت، وتاب الله على من كان تكلم من المؤمنين في ذلك، وأقيم الحد على من أقيم عليه-شرع تبارك وتعالى-وله الفضل والمنة-يعطف الصديق على قريبه ونسيبه، وهو مسطح بن أثاثة، فإنه كان ابن خالة الصديق، وكان مسكينا لا مال له إلا ما ينفق عليه أبو بكر-رضي الله عنه-وكان من المهاجرين في سبيل الله، وقد ولق ولقة تاب الله عليه منها، وضرب الحد عليها. وكان الصديق-رضي الله عنه-معروفا بالمعروف، له الفضل والأيادي على الأقارب والأجانب، فلما نزلت هذه الآية إلى قوله: (ألا تحبون أن يغفر الله لكم والله غفور رحيم) أي: فإن الجزاء من جنس العمل، فكما تغفر عن المذنب إليك نغفر لك، وكما تصفح نصفح عنك. فعند ذلك قال الصديق: بلى، والله إنا نحب-يا ربنا-أن تغفر لنا. ثم رجع إلى مسطح ما كان يصله من النفقة، وقال: والله لا أنزعها منه أبدا، في مقابلة ما كان قال: والله لا أنفعه بنافعة أبدا، فلهذا كان الصديق هو الصديق [رضي الله عنه وعن بنته]

Terjemah bebasnya seperti ini:

Ayat ini (QS. An-Nur: 22) diturunkan sebab (Sayyidina Abu Bakr) ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu. Ketika itu ia bersumpah tidak akan memberi bantuan (nafkah lagi) kepada Misthah bin Utsatsah setelah ia (ikut) berkata (menyebarkan berita) tentang 'Aisyah, sebagaimana yang diceritakan sebelumnya (lihat An-Nur: 11). Ketika Allah menunjukkan ketidak-bersalahan (kesucian) ummul mu'minin (Sayyidah) 'Aisyah. Ia (Aisyah) merasa sangat senang dan tenteram. Allah pun mengampuni orang-orang mukmin yang ikut berkomentar (menyebarkan berita) tentang (Sayyidah Aisyah), dan menetapkan hukum dera terhadap yang layak menerimanya.

(Sayyidina) Abu Bakr ash-Shiddiq memiliki kelebihan (harta) dan rezeki. Ia bersimpati kepada keluarga dan kerabatnya. (Salah satunya) adalah Misthah bin 'Utsatsah. Ia adalah anak dari bibi (Sayyidina Abu Bakr) ash-Shiddiq.

Ia orang miskin, tidak memiliki harta (sedikit pun) kecuali apa yang diberikan (Sayyidina) Abu Bakr radhiyallahu 'anhu kepadanya. Ia termasuk kaum muhajirin fi sabīlillah. Allah mengampuni Misthah dari perbuatannya, dan ia didera karena perbuatannya itu.






(Sayyidina) Abu Bakr ash-Shiddiq dikenal sebagai orang mulia dan dermawan terhadap para kerabatnya dan orang lain (bukan kerabat). Ketika ayat ini turun sampai kalimat (QS. An-Nur: 22): "allā tuhibbūna an yaghfirallahu lakum" (Apakah kalian tidak ingin bahwa Allah mengampuni kalian?)

Maksudnya, karena sesungguhnya balasan (pahala) sesuai dengan jenis amal (yang dilakukannya), sebagaimana kau mengampuni dosa orang yang bersalah kepadamu, maka Allah pun mengampuni dosa-dosamu; sebagaimana kau memaafkan (kesalahan orang lain), maka Allah pun memaafkan (kesalahan)mu juga.

Seketika itu juga (Sayyidina Abu Bakr) ash-Shiddiq berkata: "Benar. Demi Allah, sungguh kami suka, wahai Tuhan kami, bila Engkau mengampuni kami." Kemudian ia kembali memberi bantuan nafkah kapada Misthah (seperti dulu) sembari berujar: "Demi Allah, aku tidak akan mencabut (bantuanku lagi) selama-lamanya," sebagai pengimbang perkataannya yang lalu, (yaitu ucapan): "Demi Allah, aku tidak akan memberinya bantuan lagi selama-lamanya." Karena itulah ia, (Abu Bakr) ash-Shiddiq adalah ash-Shiddiq (orang yang sangat terpercaya). Semoga Allah meridhainya dan puterinya (Imam Ibnu Katsir, Tafsīr al-Qur'ān al-'Adhīm, Riyad: Dar Thayyibah, 1999, juz 6, h. 31).

Dari riwayat di atas, kita bisa mengambil dua poin penting. Pertama, pelajaran bahwa sebesar apa pun kesalahan seseorang, memaafkan jauh lebih baik daripada menyimpan dendam.

Orang yang memaafkan, akan mendapatkan peluang dimaafkan lebih besar dari sesamanya ketika ia berbuat salah. Karena itu Allah mengajukan pertanyaan (QS. An-Nur: 22): "Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu?"

Pertanyaan ini dijelaskan secara berkait dalam tafsir Ibnu Katsir di atas, yaitu: "Kau mengampuni dosa orang yang bersalah kepadamu, maka Allah pun mengampuni dosa-dosamu; sebagaimana kau memaafkan (kesalahan orang lain), maka Allah pun memaafkan (kesalahan)mu juga." Di sini kita bisa melihat kesinambungan.





Bagi orang yang beriman, tidak ada seorang pun yang tidak suka mendapatkan ampunan Allah. Semua orang mengharapkan ampunan-Nya. Artinya kita telah mengalami sendiri perasaan itu, hanya saja mungkin hati kita masih kurang tajam dalam merasa.

Orang akan merasa susah ketika ia memendam rasa bersalah. Begitu beratnya penantian untuk dimaafkan akibat kesalahan. Apalagi jika orang tersebut benar-benar merasa bersalah dan meminta maaf seperti kasus Misthah bin Utsatsah di atas.

Oleh karena itu, Allah mengajukan pertanyaan tersebut. Berhubung Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq memiliki keluasan perasaan dan kecerdasan hati, ia langsung paham maksud ayat tersebut.

Beliau langsung mencabut sumpahnya dan kembali memberi bantuan nafkah untuk Misthah bin Utsatsah. Padahal kesalahan yang dilakukan Misthah bukan kesalahan biasa. Ia ikut menyebarkan fitnah tentang Sayyidah Aisyah, puteri kesayangan Abu Bakr ash-Shiddiq.

Seperti dilansir oleh wartawan, kekecewaan Sayyidina Abu Bakr ash-Shiddiq tentu dapat dipahami, karena orang yang selama ini dibantunya ikut terlibat dalam penyebaran fitnah keji atas puterinya, apalagi Misthah adalah kerabatnya, anak bibinya (sepepunya).

Namun dengan kelapangan hati ia mencabut sumpahnya setelah mendengar firman Allah. Ini menunjukkan bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk dimaafkan, sebagaimana setiap orang punya keinginan diampuni segala dosanya oleh Allah.





Kedua, semarah apa pun seseorang, jangan sampai kemarahan tersebut menghalanginya membantu orang yang membutuhkan. Oleh karena itu Allah berfirman (QS. An-Nur: 22): "Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada."

Artinya, dalam konteks membantu orang lain, Allah menghendaki kita untuk melihat keadaannya yang miskin. Jangan melihat mereka dari kesalahan yang mereka perbuat kepada kita.

(Mtc/Okz)
Editor: Fajar

Sumber: Okezone

T#g:Berita IslamiblibliMatatelingaTerkinimatatelinga.commatatelinga com
Komentar
Rabu, 19 Feb 2020 08:00Bola

Agnelli Mencoba Merubah Format Liga Champions,Apa Tanggapan Frank Lampard

Perlu diketahui, selain menjabat sebagai Presiden Juve, Agnelli juga Ketua Asosiasi Klub Eropa. Beberapa bulan lalu, Agnelli mencetuskan ide untuk mengubah format Liga Champions.

Rabu, 19 Feb 2020 07:30Bola

Jamu Liverpool, Atletico Madrid Menang Tipis

Menjamu Liverpool di Stadion Wanda Metropolitano, Los Rojiblancos -julukan Atletico Madrid - menang tipis 1-0 lewat gol cepat Saul Niguez pada menit keempat. Simeone pun mengapresiasi para pemainnya yang berhasil mempertahankan keunggulan hingga laga us

Rabu, 19 Feb 2020 07:15Lifestyle

Mencegah Sakit Jantung, Coba Sarapan Kentang

Bila Anda ingin sehat, bisa memilih makanan untuk sarapan tidak harus nasi. Anda bisa memilih kentang sebagai menu sarapan yang sehat dan bergizi.

Rabu, 19 Feb 2020 07:00Nasional

Direktur Strategi Bakamla RI Berkunjung ke Kantor Bea Cukai dan Kemenkominfo

Direktur Strategi Bakamla RI Laksma Bakamla Sandy M. Latief melaksanakan kunjungan ke Kantor Bea Cukai serta Kementerian Komunikasi dan Informatika, beberapa hari lalu.

Rabu, 19 Feb 2020 06:45Berita Sumut

Penyerahan Penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019

Penyerahan Penghargaan Sekolah Adiwiyata Provinsi Sumatera Utara Tahun 2019 pada 18 Sekolah di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), yang dilaksanakan di SD Negeri 101956 Sukaramai, Dusun IX Sukaramai Desa Celawan Kec. Pantai Cermin

Rabu, 19 Feb 2020 06:15Nasional

Panglima TNI : 11 Pucuk Senjata Kecelakaan Mi-17 Kemungkinan Diamankan Masyarakat

Sejumlah 11 pucuk Senjata milik Prajurit TNI AD yang gugur dalam kecelakaan pesawat Heli Mi-17 beberapa bulan yang lalu di Pegunungan Bintang, Provinsi Papua, kemungkinan masih diamankan oleh masyarakat. Aparat TNI dan Polri masih melakukan pendekatan kep

Rabu, 19 Feb 2020 06:00Berita Sumut

Gelar Pertandingan Bulu Tangkis Antar Satker

Dalam rangka menyambut dan memeriahkan HUT ke-74 TNI Angkatan Udara tahun 2020, TNI AU Di Medan Gelar berbagai Pertandingan, diantaranya pertandingan Bulu Tangkis Antar Satker bertempat dilapangan bulu tangkis Melky Way Lanud Soewondo

Selasa, 18 Feb 2020 22:34Nasional

Presiden Ingin Dana Desa Secepatnya Dikirimkan Ke Desa

Dana Desa yang jumlahnya mencapai 72 triliun rupiah harus secepatnya diterima oleh desa. Oleh karena itu, Pemerintah memutuskan mekanisme pencairannya kini langsung ke desa. Langsung ke rekening desa. Perubahan pencairan Dana Desa ini agar tidak ada lagi

Selasa, 18 Feb 2020 22:15Berita Sumut

Berkas Para Tersangka Pembunuh Jamaluddin Dilimpahkan Ke Kejari Medan

Penyidik Sat Reskrim Polrestabes Medan akhirnya merampungkan berkas Berita Acara Pemeriksaan (BAP) kasus pembunuhan terhadap Hakim Pengadilan Negeri (PN) Medan, Jamaluddin (55).

Selasa, 18 Feb 2020 20:05Berita Sumut

Putu: Polres Tanjungbalai Tak henti Hentinya Membrantas Jaringan Narkoba

Tim gabungan Polres Tanjungbalai yang terdiri dari Polsek, dalam lebih kurang sepekan mengungkap tiga kasus Narkoba dengan meringkus 4 orang tersangkanya dari lokasi yang berbeda.

Selasa, 18 Feb 2020 18:25Berita Sumut

Musda Partai Beringin, Ijeck Mampu Jadikan Golkar Sumut Bermartabat

Ketua Kosgoro Sumut Riza Fakhrumi Tahir menilai hanya sosok H. Musa Rajekshah (Ijeck) yang mampu membuat Golkar Sumut menjadi Golkar yang Bermartabat. Berdasarkan hasil analisis kebutuhan, Golkar butuh Ijeck untuk membenahi partai. Hal itu disampaikan

Selasa, 18 Feb 2020 18:10Berita Sumut

Edy Rahmayadi Ingatkan Satpol PP Tidak Hanya ‘Anggar’ Otot

Selain melakukan penertiban dan menegakkan Peraturan Daerah (Perda), Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) juga bertugas memelihara ketentraman, ketertiban umum dan memberikan rasa aman pada masyarakat. Karena itu dalam bertugas Satpol PP tidak bisa hany

Selasa, 18 Feb 2020 17:40Nasional

Panglima TNI : Evakuasi Korban Heli Mi-17 Butuh Profesional dan Skill

Pelaksanaan evakuasi korban Heli Mi-17 di pegunungan Bintang tidak mudah karena berada pada ketinggian lebih dari 12.000 ft dengan kemiringan sampai dengan 90 derajat, butuh suatu profesional, skil dan tekad untuk melaksanakan evakuasi.

Selasa, 18 Feb 2020 17:20Nasional

Panglima TNI Hadiri Upacara Militer Pelepasan Jenazah Kecelakaan Helikopter Mi-17

Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P. menghadiri upacara penyerahan dan pelepasan jenazah empat prajurit TNI AD korban musibah kecelakaan Helikopter Mi-17, di Pegunungan Mandala, Distrik Oksob, Kab. Pegunungan Bintang, Provinsi Papua