• Home
  • Opini
  • "Turbulensi" Media Arus Utama Dalam Arus Politik

"Turbulensi" Media Arus Utama Dalam Arus Politik

Eddy Iriawan Kamis, 20 Desember 2018 08:10 WIB
Istimewa
                                                                     
                                                                          Penulis : Eddy Iriawan

Gunjang-ganjing dinamika polilik menjelang periode pesta demokrasi Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) 2019 saat ini, tanpa terasa membawa 'hipotesis' jauh sebelum masa kampanye saat ini akan adanya polarisasi dalam masyarakat, nyata adanya.

Bahkan'konflik" antar masyarakat maupun perang wacana dan isu yang terkadang lebih didominasi isu-isu jauh atau bahkan tanpa nilai substansial diantara para elit yang sedang euforia memperebutkan jabatan publik sebagai legislator semakin mengkristal dalam peta pertarungan antara pendukung dalam arena kontestasi Pemilihan Presiden/Wakil Presiden (Pilpres).


Bukan hanya domain masyarakat dalam framing di media sosial yang sangat mudah dilihat,atau pun para elit politik negeri ini saja yang semakin riuh menabuh genderang saling sindir, saling menghina atau menghujat sekalipun.

Namun diyakini secara sadar media, khsusunya media mainstreame (arus bawah) ikut terseret arus dalam area politik praktis saat ini.

Independensi pers sebagai pilar keempat demokrasi (the fourth estate)-semakin tergerus kepentingan politik praktis yang tidak bisa dihindari para pananggung jawab news room.

Sistem politik yang seakan memberi ruang sebebas-bebasnya bagi siapapun, termasuk lembaga yang diyakini sebagai'penjaga moral dan keadilan' di masyarakat yakni pers , ternyata tak immune digerogoti oleh kepentingan-kepentingan politik.


Kooptasi atas nama kepentingan penguasa, pengusaha, arsiran ideologi politik pemilik modal hingga kepentingan bisnis yang diperoleh dari penerapan "embedded journalism" saat ini diyakini menjadi katalisator banyaknya pertanyaan banyak pihak, apakah media arus bawah saat ini sungguh semakin menjauhi prinsip-prinsip independensi dalam seluruh
kebijakan redaksionalnya yang tercermin dari produk-produk jurnalisme yang dikonsumsi masyarakat ?

Bercermin dari realitas yang ada, persepsi publik tampaknya sulit terbantahkan. Demokrasi saat ini tengah dibajak oleh para elit-elit politik yang notabene sebagai pemilik media-media arus bawah yang berkorelasi dengan proses"digitalisasi out put" produk-produk jurnalistik yang dihasilkan media arus bawah yang sewarna dengan ideologi politik sang bos.

Tidak adanya regulasi yang tegas antara pemilik media dengan "owner" partai politik, atau istilahnya "trias politica" kekuasaan seperti yang digambarkan John Lock, membuat kecurigaan publik semakin mengkristal atas tidak mampunya media bersikap independen seperti yang menjadi hakekat dasar jurnalisme itu sendiri.

Gambaran yang jelas dari "demoralisasi" yang sedang dihadapi salah satu lembaga yang
kerap disebut lembaga penjaga pilar demokrasi ini, dari fakta "kontroversial" seputar peliputan dan publikasi media arus bawah dalam aksi massa 212 beberapa waktu lalu.

Kecendrungan keenggganan sejumlah media massa mengkoper peristiwa monumental tersebut (terlepas dari ada tidaknya kepentingan politik), setidaknya dari variabel unsur-unsur nilai berita (news value), sejumlah media mengkesampingkan hal ini atas nama kebebasan.

Namun jika dibuat komparasi dari peristiwa serupa dua tahun sebelumnya, peliputan dan publikasi aksi yang sama, "kerumunan massa" sejenis menjadi media darling bagi media- media yang berbanding terbalik dengan peristiwa yang terjadi tahun ini.

Tak bisa dipungkiri, perubahan politik redaksional itu terbanding lurus dengan kebijakan politik para owner partai politik yang saat ini menyandarkan sikap politiknya ke kekuatan politik tertentu.

Demoralisasi Jurnalisme.

Dalam hasil riset untuk mencari prinsip-prinsip kerja jurnalis seperti yang dituangkan dalam buku The Elements of Journalism oleh Bill Kovach dan Tom Rosential, diantara sembilan prinsip jurnalisme yang menjadi pedoman dalam menjalankan fungsi jurnalistiknya, jurnalis memiliki fungsi 'menjalankan kewajiban sebagai pengawas yang independen terhadap kekuasaan' dan 'loyalitas pertama jurnalisme adalah kepada masyarakat'.

Dua prinsip ini dirasakan sangat substantif untuk dijadikan rujukan agar media arus bawah benar-benar dapat membangun kepercayaan publik terhadap media arus bawah (public trust).

Kekhawatiran adanya pergeseran rujukan publik saat ini dari panduan media arus bawah kepada media sosial yang 'non verifikasi' dalam mengungkap sebuah fakta, harus dicermati para pelaku "jurnalisme verifikasi'.

Adanya kecenderungan kooptasi dari pemilik modal dan kooptasi kekuasaan dirasakan menjadi trigger bagi publik untuk mencari sumber informasi alternatif yang dirasakan jauh dari intervensi komponen-komponen pemilik modal dan kekuasaan.

Dalam elemen-elemn Jurnalisme disebutkan sebagai pihak yang menjalankan fungsi watch dog, terhadap kekuatan besar, seperti kekuasaan dan kekuatan modal. Dengan institusionalisasi prinsip ini, tuntutan adanya pengaturan jarak antara pelaku-pelaku jurnalisme dengan kekuasaan menjadi sah dalam penerapannya.

Tujuannya dengan adanya "pengaturan jarak" dalam format garis demarkasi yang tegas, hakekat kepentingan publik
diyakini akan semakin terjamin.

Akan menjadi hambatan psikologis bagi para pelaku jurnalisme, terutama bagi pengambil kebijakan redaksional apabila kedekatan yang dipengaruhi oleh kepentingan pemilik modal, terutama dalam kaitan dengan ideologi politik dan kekuasaan, tidak terhindarkan. Muatan- muatan produk jurnalistiknya akan semakin jauh dari 'suara' masyarakat yang mungkin akan semakin sulit untuk direkonstruksi ulang menjadi sebuah produk jurnalistik yang adil.

Prinsip tegas bahwa jurnalisme berpegang teguh pada loyalitas kepada masyarkat sebagai loyalitas yang paling utama.

Prinsip ini membawa jurnalisme kepada sebuah panduan bahwa jurnalis dan elemen-elemen dalam proses produksi produknya tidak diberi ruang untuk berpihak kepada siapapun (netral) kepada siapapun, baik pemilik modal maupun kekuasaan sekalipun.

Dalam konteks ini masyarakat memberi "kepercayaan" penuh kepada institusi jurnlisme untuk mereproduksi sebuah realitas dengan tidak menempatkan tendensi tertentu atas nama pemilik modal maupun kekuasaan manapun dalam out put-nya.

Bahkan jangan sampai media dituding sebagai perpanjangan tangan kekuasaan untuk mem-black out sebuh fakta atas dasar interest apapun. Kekhawatiran munculnya "antipati" terhadap produk-produk jurnalistik terverifikasi jangan sampai menjadi sebuah kenyataan.

Namun jika praktek jurnalisme seperti yang terjadi saat ini masih terus dipertahankan, kemungkinan adanya demoralisasi jurnalisme akan semakin jauh dan tergerus oleh media lain yang sedang trend saat ini yakni media sosial.

Sebagai institusi yang menengadahkan kepercayaannya kepada masyarakat/publik, media arus bawah seyogianya kembali menempatkan masyarakat/publik sebagai konsumennya tersebut pada struktur kekuasaan tertinggi jika dibuatkan struktur atau hirarki kekuasaan dalam jurnalisme.

Sehabat dan secanggih apapun karya-karya jurnalisitk yang dihasilkan, namun tatkala persepsi publik terlanjur terbangun bahwa media arus bawah tertentu 'berafiliasi' pada kekuataan-kekuatan tertentu, akan menjadi percuma.

Vonis publik terhadap media-media partisan kepada kekuataan-kekuataan politik tertentu dan kekuasaan terasa lebih "kejam" daripada hal lainnya. Apresiasi dan menjadikan sebuah media massa sebagai rujukan kebenaran dan tanpa kepentingan di luar kepentingan masyarakat, merupakan apresiasi terbesar yang dirasakan para pekerja jurnalistik.

Masyarakat tidak lagi bisa dipandang sebagai kumpulan benda mati yang bisa sesuka hati disuguhkan muatan-muatan informasi sesuai selera pengelola media dengan penerapan .

Agenda Setting yang "terkontaminasi". Menjejali pikiran dan persepsi publik dengan agenda tertentu dengan berpedoman bahwa publik akan menerima informasi apapun dirasa sudah sangat usang (bullet theory atau Hypodermic Needle Theory-nya Wilbur Schramm).

Selektifitas dalam mengkonsumsi informasi dari media massa oleh publik kini semakin ketat.

Banyak faktor yang melatarbelakanginya. Diantaranya tersedianya sumber-sumber informasi alternatif yang dianggap lebih netral dan tidak memiliki arsiran kepentingan dengan kekuataan manapun, terutama dalam musim-musim kampanye pemilu saat ini.

Masyarakat sudah sepantasnya "dihargai" sebagai kumpulan manusia yang juga memiliki referensi dan pengetahuan yang tidak terbatas.

 Preferensi dalam menentukan sikap yang dimiliki masyarakat akan menjadi "kejam" untuk memvonis media massa arus bawah tatkala sebuah kongklusi oleh masyarakat terlanjur diputuskan.

Jangan jajah hak publik

"Kooptasi" berlebihan terhadap pemahaman publik, khususnya dalam konteks informasi politik terhadap sebuah fakta oleh media massa yang dikirtik banyak pihak, sejatinya menjadi sebuah refleksi oleh institusi pers saat ini.

Benar, tidak ada insitutisi manapun yang "merdeka" dari dinamika institusi yang ada di sekitarnya dalam prosesnya. Sedikit atau lebih, "simbiosis" terkadang tercipta baik secara sadar ataupun tanpa sengaja
akibat proses sosial yang berlangsung.

Namun seperti yang disebutkan Bill Kovach, prinsip dasar sebagai instituti yang menghargai kepercayaan masyarakat, sikap pengaturan jarak guna menghindari timbulnya conflict of interest sejatinya tidak ada tawar-menawar atas
nama apapun.

Jurnalisme harus menyebarkan kaedah-kaedah yang memberi ruang bagi masyarakat untuk menentukan sikapnya-termasuk sikap politiknya, dengan suguhan informasi-informasi yang tidak mengandung muatan-muatan "informasi koaliasi" yang bertujuan menenggelamkan kebebasan masyarakat dalam memilih melalui informasi-informasi berimbang dari para penanggung jawab media massa.
 
Biarkanlah masyarakat menentukan preferensi politiknya dengan mengambil referensi informasi informasi yang murni dari media arus bawah tanpa ditunggangi motif apapun.


Editor: Amrizal

T#g:Gunjang ganjing PolitikMatatelingapilpres 2019TerkiniTraveloka
Komentar
Selasa, 22 Jan 2019 23:05Bola

Terungkap, Ini Kisah Akhir Cristiano Ronaldo Dalam Kasus Hukum yang Menjerat Dirinya

Megabintang Juventus, Cristiano Ronaldo, baru saja menjalani persidangan di Kota Madrid, Selasa (22/1/2019) waktu setempat, terkait kasus pajak yang sempat melilitnya.

Selasa, 22 Jan 2019 22:41Ekonomi

Impor 30.000 Ton Jagung Bisa di Batalkan, Jika Petani Lakukan Hal ini

Direktur Utama Perum Bulog Budi Waseso menyatakan, jatah impor jagung pakan sebanyak 30.000 ton pada tahun ini bisa saja tidak dilakukan. Hal ini bila produksi dalam negeri bisa memenuhi kebutuhan.

Selasa, 22 Jan 2019 22:36Nasional

Gempa 6,2 SR Guncang NTT

Hingga malam ini, guncangan gempa susulan masih terus terjadi di wilayah Kabupaten Sumba Barat, Provinis Nusa Tenggara Timur, (NTT).

Selasa, 22 Jan 2019 22:17Lifestyle

Pilu Nan Malang: Bayi Terkubur Hidup - Hidup Selam 3 Pekan, ini Kondisinya Sekarang

Seperti halnya nasib sial yang bisa menimpa siapa saja, di mana saja, dan dalam bentuk apapun, begitu juga dengan keberuntungan. Keberuntungan dari Tuhan ini yang baru saja dialami oleh seorang bayi di India, yang bahkan belum genap berusia satu bulan.

Selasa, 22 Jan 2019 21:59Berita Sumut

Persit KCK Cabang XXXIV Dim 0207 Koorcab Rem 022 PD I/BB Jalin Silaturahmi

Penrem 022/PT. Persit Kartika Chandra Kirana (KCK) Koorcab Rem 022 PD I/Bukit Barisan, kembali melakukan aktivitasnya melaksanakan tugas dan kegiatan Persit Kartika Chandra Kirana dengan kegiatan pertemuan rutin dalam rangka menjalin silaturahmi dan menin

Selasa, 22 Jan 2019 21:33Berita Sumut

Pekerja Bangunan Ditangkap Karena Sabu

Pekerja bangunan berinisial R ,54, tak berkutik ketika disergap petugas Unit Reskrim Polsek Patumbak, Senin (21/1/2019) malam. Sebab, dari pekerja bangunan, warga Pasar XII, Gang Terusan, Desa Mariendal II, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang terse

Selasa, 22 Jan 2019 21:15Berita Sumut

Surat Laporan dan Keberatan Sukran Tanjung Hilang

Mantan Bupati Tapanuli Tengah (Tapteng) Sukran Jamilan Tanjung SE MM mengaku kecewa dengan keteledoran jajaran Kepolisian Daerah Sumatera Utara (Poldasu) atas hilangnya surat laporan dan keberatan yang diserahkannya pertama kali ke Bagian Humas Poldasu pa

Selasa, 22 Jan 2019 20:56Berita Sumut

Pangdam I/BB: Memupuk Jiwa Korsa dan Ajang Tali Asih Silaturahmi

Memupuk jiwa korsa dan ajang tali silaturahmi yang disampaikan Pangdam I/BB Mayjen TNI M. Sabrar Fadhilah didampingi Kasdam I/BB Brigjen TNI Hassanudin, S.I.P, M.M beserta Pamen Kodam I/BB pada saat olahraga bersepeda santai di sejumlah lokasi Kota Medan,

Selasa, 22 Jan 2019 20:46Berita Sumut

IRT Sembunyikan Narkoba Dalam Bra

RA alias Tuti ,26, warga dusun VII gang Selamat desa Suka maju kecamatan tanjung Tiram seorang ibu rumah tangga digelandang opsnal Reskrim Polsek Simpang Empat, pasalnya RK alias Tuti kedapatan menyimpan narkotika jenis sabhu di dalam “BRA” yang dikenakan

Selasa, 22 Jan 2019 20:41Berita Sumut

Hina Jokowi Dengan Kata-kata Ini di Medsos, Juara Duduk di Kursi Pesakitan

Juara Seherman alias Kembar (29) diadili di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Selasa (22/1). Warga Perbaungan, Serdang Bedagai (Sergai) ini diadili karena menghina Pesiden Jokowi di laman Facebooknya.

Selasa, 22 Jan 2019 20:40Berita Sumut

Pelaku Perampokan Nyaris Tewas di Hajar Massa

Pelaku berimnisial RMM ,25, warga Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan ini terpaksa digotong beramai ramai dan dinaikkan keatas mobil patroli Polsek Medan Belawan akibat dihakimi warga karena merampok penumpang Bus di Simpang Si

Selasa, 22 Jan 2019 20:26Berita Sumut

Kapolrestabes Medan dan Kapolsek Patumbak Blusukan ke Rumah Warga

Dalam rangka Program 1092 Menyatu bersama dengan Masyarakat,Kapolrestabes Medan Kombes Pol Dr Dadang Hartanto,SH,SIK,MSi blusukan kerumah warga,Warung dan Komplek perumahan diwilayah hukum Polsek patumbak dengan gowes bersepeda.Kapolrestabes Medan disambu

Selasa, 22 Jan 2019 20:20Berita Sumut

Lelang Jabatan Eselon II Pemko Medan Belum Juga Dibuka

Sejak Oktober 2018 lalu terdapat beberapa posisi kepala organisasi perangkat daerah (OPD) kosong lantaran ditinggal pensiun.

Selasa, 22 Jan 2019 20:16Berita Sumut

Kompipak Demo Poldasu, Usut Dugaan Korupsi di Dinas PU Asahan

uluhan mahasiswa dan LSM yang tergabung dalam Koalisi Mahasiswa Pemuda Islam Pejuang Anti Korupsi (KOMPIPAK) melakukan unjukrasa di Mapoldasu, Selasa (22/1/2019)

Selasa, 22 Jan 2019 20:10Nasional

Soal Baasyir, Presiden Tegaskan akan Tetap Taat Hukum

Presiden Joko Widodo memberikan penjelasan tentang pertimbangan aspek kemanusiaan untuk Ustaz Abu Bakar Baasyir. Kepala Negara menegaskan bahwa dirinya tidak akan bertindak dengan menyalahi prosedur hukum dalam proses yang dilakukan soal Ustaz Abu Bakar B

Selasa, 22 Jan 2019 20:06Berita Sumut

Tim Gabungan Tertibkan 22 Unit Papan Reklame Bermasalah

Pembongkaran papan reklame bermasalah kembali dilakukan oleh Tim Gabungan Pemko Medan. Tim Gabungan terus melakukan penertiban terhadap papan reklame bermasalah di sejumlah ruas titik yang ada di Kota Medan