• Home
  • Opini
  • Ayo Lestarikan Ulos Sebagai Warisan Budaya Leluhur

Ayo Lestarikan Ulos Sebagai Warisan Budaya Leluhur

Mtc/James Jumat, 02 Februari 2018 15:26 WIB
Istimewa
MATATELINGA : Ulos dalam suku Batak ada beragam bentuk dan warna, bagi suku-suku tertentu di Sumatera Utara pemuatan ulos dan keberadaan ulos masih menempati posisi penting terutama dalam adat istiadat yang diemban setiap suku. Keberadaan ulos dalam pesta dan upacara adat suku Batak misalnya, ulos sangatlah penting keberadaannya.

Oleh : James P. Pardede

Tidak hanya dalam acara adat pernikahan, kematian atau pesta adat masuk rumah baru. Dalam acara Siluluton dan Siriaon pun, seluruh pomparan dari yang tertua dan menjadi raja dalam silsilah suku Batak masih tetap menggunakan ulos dalam setiap kesempatan. Saat manortor dan mangulosi, seluruh pomparan terlihat serius untuk memberikan ulos kepada anak, boru dan hula-hula mereka.



Perlu diketahui, ulos tak hanya sebagai benda berharga dimata adat suku Batak, ulos juga mempunyai makna dan nilai luhur yang sangat tinggi.

Menurut penelitian para ahli antropologi, nenek moyang bangsa Indonesia berasal dari Hindia Belanda. Berdasarkan waktu perpindahan nenek moyang kita dari Hindia Belakang, suku bangsa Indonesia terbagi atas Melayu Tua yang mendiami daerah pedalaman dan Melayu Muda mendiami pesisir pantai. Suku Batak adalah termasuk Melayu Tua.

Sejak zaman dulu, nenek moyang kita sudah memiliki suatu budaya tenun. Keunikan desain yang diciptakan nenek moyang kita pada masa itu adalah kemampuan suatu karya yang mencerminkan unsur-unsur yang erat hubungannya dengan unsur kepercayaan, pemujaan kepada leluhur dan memuja keagungan alam. Semua itu tersimpul pada liku-liku benang, warna benang dan tarikan garis jalur benang yang menghiasi sebuah kain atau ulos hasil tenunan.



Teknik pembuatan kain atau ulos, nenek moyang suku Batak telah membuat benang dari kapas dengan jalan "Manorha" dan menenunnya menjadi kain dengan jalan "Martonun". Warna yang pada awalnya lebih dominan digunakan adalah tiga warna. Yaitu warna Putih berarti suci, warna Merah berarti berani dan warna Hitam berarti kuat, teguh dan kokoh. Proses pewarnaan saat ini sudah dilakukan dengan cara sintetik dan cara alami menggunakan sari daun-daunan (Indigovera).

Belakangan ini, selain merupakan warisan budaya yang perlu dilestarikan, ulos Batak juga sudah banyak mengalami perubahan karena adanya inovasi dalam peningkatan proses produksi yang menyangkut proses pewarnaan maupun desain yang digunakan.

Ulos Batak (wikipedia)

Namun demikian, makna sakral yang tersirat di dalam Ulos Batak tetap dipertahankan terutama dalam upacara adat Batak. Ulos Batak pun ternyata memiliki nilai artistik yang khas dan telah memasuki pasaran hingga memiliki nilai ekonomi yang semakin tinggi. Ulos Batak saat ini peruntukannya bukan hanya berfungsi dalam kegiatan budaya masyarakat Batak, tetapi juga dinikmati dan dihargai oleh bangsa lain yang sekaligus mencerminkan tingkat martabat bangsa.



Dalam seni budaya Batak, ulos mempunyai beberapa fungsi. Selain berfungsi sebagai bahan pakaian sehari-hari, baik bagi pria maupun wanita, ulos juga dipakai dalam upacara adat Batak.

Pemberian ulos menjadi satu ungkapan atau pernyataan sebagai lambang Ulos Ni Daging dan Ulos Ni Tondi. Ulos Ni Daging adalah merupakan pernyataan bahwa ulos itu dapat melindungi tubuh secara alami. Ulos Ni Tondi berarti perlambang bahwa apa yang diinginkan oleh tondi (roh/jiwa) dari seseorang (seperti hagabeon, hahorason dan hasangapon) akan tercapai.

Dalam kekerabatan dan kekeluargaan suku Batak dikenal "Dalihan Na Tolu" yang berarti somba marhula-hula, elek marboru dan manat mardongan tubu. Ditengah lingkup kekerabatan inilah ulos Batak berperan untuk meningkatkan rasa saling mengasihi dan saling menghargai.



Menurut kepercayaan suku Batak, hula-hula yang berhak memberi berkat (pasu-pasu) kepada pihak borunya dimana dipercayai bahwa pasu-pasu dari pihak hula-hula ke pihak boru akan memperoleh hahorason, hagabeon dan hamoraon.
Kadang-kadang, pemberian ulos sudah tidak lagi harus dalam upacara adat, sudah banyak yang menjadikan ulos sebagai kado dan cenderamata kepada orang-orang tertentu yang pantas diberi ulos. Dalam situasi seperti ini, nilai dan makna ulos sebagai pelindung dan pemberi berkat sudah bergeser. Ulos akhirnya hanya bermakna sebagai pemberian biasa yang nilainya tak kurang dan tak lebih ebesar harga ulos itu sendiri.

Ulos sebagaimana dikenal secara fisik merupakan sehelai kain yang ditenun dari benang oleh penenun secara tradisional. selain hanya selembar kain, sesungguhnya ulos berarti juga alat untuk menghangatkan badan (selimut) yang bisa menghalangi tubuh dari terpaan angin yang dingin juga beragam penyakit yang datang menyerang.



Sesungguhnya ulos juga merupakan cerminan dari seni yang ada dalam kehidupan dan jiwa orang Batak, apakah itu dalam tata cara perbuatannya, tata cara pemberian, fungsi dan makna yang terkandung dalam ulos sesuai dengan jenis ulos dan saat pemberian atau pemakaiannya.

Sesungguhnya, ulos tak hanya memiliki makna sesuai dengan peruntukannya. Ulos juga memiliki makna yang lebih dalam sesuai dengan tulisan dan coraknya. Membaca ulos seperti yang dilakukan para orang tua dimulai dari sisi warna, bentuk, panjang dan lebar, garis-gari dalam ulos, benang dan motif.



Menurut para ahli ulos, membaca ulos dimulai dari garis putih dari ujung ke ujung dan jumlah garis tersebut harus ganjil sehingga ulos tersebut baik dipakai, kemudian dibaca juga ukuran panjang - lebar ulos, keseimbangan penggunaan benang.
Umumnya ukuran-ukuran yang dipakai harus dihitung ganjil, sebab bila genap disebut kepunyaan 'hatoban" (atau budak.
Pemakaian ulos pada umumnya dilihat dari tempat dimana diletakkan. Misalnya di pundak kanan, dililitkan di kepala, dililitkan di badan (hohop). Pemakaian tergantung pada kegiatan adat yang dilakukan dan status sosial pemakai.

Apabila ulos digunakan sebagai ikat kepala memberi makna sesuai warna ulos, yakni tali-tali warna hitam artinya kekuatan dan keteguhan jiwa, tali-tali warna putih menunjukkan kesaktian dan kesucian hati, sementara warna merah mengandung makna berani, kekar dan kuat dalam perang.



Dari paparan diatas, ternyata ulos adalah merupakan gambaran kehidupan, kerajaan dan cita-cita orang Batak. Di dalamnya tersirat seni yang indah dan mengandung makna yang dalam. Sebagai sebuah hasil karya seni, ulos juga telah merambah ke sanubari kita membawa kesejukan, memberi kesejahteraan bagi para perajinnya.

Ulos sebagai benda sakral dalam upacara adat suku Batak kian bergeser akibat masuknya budaya asing. Ulos yang dulunya masih banyak digunakan sebagai pakaian sehari-hari, kini hanya berfungsi dan bermakna dalam upacara adat Batak.

Tapi jangan heran, ulos bagi sebagian besar suku Batak masih memiliki tempat terhormat. Yang pasti, ulos bagi setiap orang memiliki makna dan arti yang cukup dalam.
Editor: James P Pardede

T#g:James P PardedeUlos Batakadat batakDalihan Na Tolu
Komentar
Kamis, 26 Apr 2018 06:48Aceh

Disenyalir, Masih Ada Tiga Jenazah di Lokasi Ledakan

Dilaporkan masih ada tiga jenazah korban terjebak di sekitar sumur minyak ilegal yang meledak di Desa Pasir Putih, Ranto Pereulak, Aceh Timur

Kamis, 26 Apr 2018 06:33Lifestyle

Wanita Yang Sunat, Lebih Sensitif Dalam Berhubungan Seks

Melakukan sunat pada perempuan rupanya dianjurkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW. Ada manfaatnya yang dirasakan setiap kaum hawa, terutama dapat meningkatkan libido

Kamis, 26 Apr 2018 06:18Nasional

Panglima TNI : Apel Bersama Menunjukkan Kesamaan Gender di Institusi TNI-Polri

Panglima TNI : Apel Bersama Menunjukkan Kesamaan Gender di Institusi TNI-Polri

Rabu, 25 Apr 2018 22:33Berita Sumut

Peringatan Hari Otonomi Daerah ke XXII

Pemerintah Kabupaten Karo menggelar upacara peringatan Hari Otonomi Daerah ke XXII, di Halaman Kantor Bupati Karo, Kabanjahe

Rabu, 25 Apr 2018 22:18Nasional

Wapres Jusuf Kalla Membuka Inacraft 2018

Wakil Presiden Jusuf Kalla didampingi Ibu Negara Mufidah Kalla membuka secara resmi pameran International Handicraft Trade Fair (Inacraft) 2018 di Assembly Hall, Jakarta Convention Center (JCC),

Rabu, 25 Apr 2018 22:03Berita Sumut

PDAM Tirtanadi dan Pokja Wartawan Tanam Pohon

Memperingati Hari Bumi yang jatuh pada 22 April 2018 lalu, PDAM Tirtanadi Provinsi Sumatera Utara bersama Pokja Wartawan PDAM Tirtanadi Sumatera Utara melakukan kegiatan penghijauan menanam pohon sebanyak 500 batang pohon

Rabu, 25 Apr 2018 21:48Berita Sumut

Sihar Iri dengan Kehidupan Anak-anak Panti Asuhan

Pernyataan mengejutkan diungkapkan Calon Wakil Gubernur (Cawagub) Sumatera Utara Sihar Sitorus saat berkunjung ke Panti Asuhan Terima Kasih Abadi Jalan Pengayoman Ujung Sei Agul Medan

Rabu, 25 Apr 2018 21:33Nasional

Panglima TNI : Generasi Penerus Bangsa Dituntut Responsif Menyikapi Perubahan Zaman

Generasi penerus bangsa dituntut untuk responsif dan cerdas dalam menyikapi perubahan zaman, khususnya pesatnya kemajuan teknologi di berbagai bidang yang secara langsung maupun tidak langsung memberikan pengaruh

Rabu, 25 Apr 2018 21:18Berita Sumut

Baupati Karo Hadiri Penutupan Turnmen Catur dan Volly

Bupati Karo Terkelin Brahmana, SH hadiri penutupan Turnamen Catur Kapoldasu Cup dan Turnamen Volly Kapolres Tanah Karo Cup di Lapangan Mapolres TK

Rabu, 25 Apr 2018 21:03Berita Sumut

Usai Sholat Isya, Menuju Pulang di Siram Air Panas

Evi Susanto ,45, warga Jalan Selebes Paluh Perta Kelurahan Belawan Kecamatan Medan Belawan membuat pengaduan ke Polres Pelabuhan Belawan Selasa (24/4/2018) karena wajahnya disiram air panas hingga melepuh

Rabu, 25 Apr 2018 20:05Berita Sumut

Puasa Ramadan Momentum Perempuan Perkuat Dakwah Politik

Pengajian Perempuan Al Hidayah Partai Golkar Sumut menggelar pengajian akbar di Masjid Raya Al Mashun, Rabu (25/4/2018).

Rabu, 25 Apr 2018 19:48Berita Sumut

Wali Kota Terima Audiensi KNPI dan Dinas Tenaga Kerja

Wali Kota Medan, Drs. H.T. Dzulmi Eldin S, M.Si menerima audiensi pengurus Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Medan, Rabu (25/4) di rumah dinasnya.

Rabu, 25 Apr 2018 19:17Berita Sumut

Polisi Ungkap Jaringan Begal Sadis di Medan, 4 Ditangkap

Tiga orang pelaku begal serta seorang penadah yang sering beraksi di sejumlah kawasan di Medan diringkus polisi. Para pelaku merupakan bagian dari jaringan pelaku begal yang tak segan menyakiti korban.

Rabu, 25 Apr 2018 18:41Berita Sumut

AKBP Frido Diupah-upah Wartawan Polres Labuhanbatu

Satuan Wartawan (Satwar) Polres Labuhanbatu melaksanakan upah-upah kepada Kapolres Labuhanbatu, AKBP Frido Situmorang serta jajaran. Kegiatan ini terkait peristiwa yang mengakibatkan Waka Polres Labuhanbatu meninggal dunia, di Aula Tunggal Panaluan Mapolr

Rabu, 25 Apr 2018 18:13Berita Sumut

Wali Kota Jenguk Pegawai Dinas Pariwisata Korban Kecelakaan

Jelang tengah hari, Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi menjenguk Rafida Nadia Lubis di Ruang ICU RS Siloam Jalan Imam Bonjol Medan, Rabu (25/4). Pegawai honorer Dinas Pariwisata Kota Medan itu tampak terbaring lemah. Sudah tiga bulan dia menja

Rabu, 25 Apr 2018 17:45Nasional

Bertemu ketua DPR, Majelis Nasional FORHATI Kawal RUU KUHP

Pengurus Presidium Forhati bertemu dengan ketua DPR, dalam pertemuan tersebut Forhati menyampaikan beberapa keinginan diantaranya menyampaikan hasil kajian tentang usulan Revisi KUHP terkait LGBT.