• Home
  • Opini
  • Konsesus-yang-"Meminggirkan Hati Nurani"

Konsesus-yang-"Meminggirkan Hati Nurani"

Eddy Iriawan Jumat, 17 Agustus 2018 07:20 WIB
Matatelinga
Eddy Iriawan
                                                Konsesus-yang-"Meminggirkan Hati Nurani"
 
                                                                        Oleh

                                                                  Eddy Iriawan

Proses untuk mencapai konsesus bersama dalam berbagai aspek kehidupan saban hari nyaris kita saksikan. Baik dalam ranah ekonomi, politik dan sosial. Kesemuanya memerlukan bargaining karena tidak semua benturan diantara elemen-elemen tersebut dapat disepakati hanya dari satu arah saja,  namun harus dipastikan adanya kesepakatan dari dua kutub berbeda. Perlu efort khusus untuk memastikan adanya kesepahaman diantara para pihak.

Komitmen bersama untuk mengambil sebuah keputusan sejadinya tidak hanya menjadi isu elementer yang sudah cukup apabila sudah diambil kesepakatan saja. Namun sebuah konsesus perlu realisasi sikap yang mendorong para pihak untuk secara sadar dan rela menjalankan hasil konsesus yang sudah disepakati. Apa artinya jika otentik formalitas dalam selembar kertas atas komitmen dan non verbal bergelantungan di "alam" nya masing-masing tanpa memberikan makna dalam efek realitasnya.

Keduanya hanya menjadi sebuah "mummi" yang tampak sebagai wujud manusia namun tanpa memberikan makna dan fungsi hakiki sebagai manusia. Benda hasil "kremasi" tersebut selayaknya hanya dapat dipandang sebagai momumen sejarah yang kapan saja ingin dilihat dan dinikmati untuk kepuasan raga.

Sementara degradasi sosial yang melemahkan hati dan perasaan sebagai sebagai naluri dasar manusia tampaknya semakin merajalela "mengintimidasi" kenalaran manusia itu sendiri tanpa ada pihak yang mampu menghentikan-atau bahkan mencoba- sekalipun. Semuanya seakan terdiam dan memandangnya sebagai sebuah keniscayaan yang tidak bisa dibantah atau bahkan dihentikan sama sekali sebagai sebuah dinamika sosial dan dinamika politik yang alamiah dan sah-sah aja.

Kecenderungan pragmatisme dan dikuatkan dengan sikap skeptis kemudian semakin menguatkan pola-pola berpikir dan bersikap terutama dalam nuansa eforia politik saat ini. Segalanya menjadi "benar" jika adanya stempel formal dari pemilik formal kekuasaan, baik partai politik maupun pemegang kekuasaan. Nada-nada minor dan kritis dari para pihak luar semakin dijauhkan dari episentrum jika mencoba "menghakimi" sebuah konsesus yang sudah diambil. Segalanya menjadi tak berdaya untuk memberi masukan apalagi mencoba-coba "merusak" kesepakatan yang sudah terlanjut diambil.

Atau mungkin kini pandangan Dahrendroff mengenai konsesus dan konflik dalam kajian Antropologi bahwa otoritas seseorang bukan terletak pada dirinya sendiri namun lebih kepada posisinya dalam struktur sosial begitu mengkristal ?. Selain itu, mereka  yang menduduki posisi otoritas menyatakan superordinasi bagi para pihak di bawahnya. Dalam realitas di berbagai pranata sosial dam dalam setiap asosiasi, mereka-mereka yang berada pada posisi penentu atau superordinat akan berupaya dengan berbagai argumentasi untuk mempertahankan status quo untuk "mengkerdilkan" subordinatnya.

Walaupun ada upaya untuk melakukan "perlawanan" untuk menciptakan logika berpikir perubahan, akan menghadapi benturan yang tidak mudah karena menyangkut upaya mempertahankan eksistensinya sebagai superordinat dan struktur sosial yang ada.

Dominasi Parpol

Hiruk-pikuk gaung pesta demokrasi bernama Pemilihan Anggota Legislatif dan Pemilihan Presiden/Wakil Presiden yang tengah berlangsung saat ini, seakan menjadi "momen akbar" yang setiap warga negara wajib berpartisipasi demi atas nama demokrasi. Akan menjadi "dosa" tanggung jawab warga negara jika tidak mensukseskan perhelatan akbar yang prinsip dasar penyelenggaraannya sudah di'disain" sedemikian rupa oleh para perwakilan partai politik di parlemen.

Sebagai penikmat "menu masakan" partai politik tersebut, sejatinya warga negara hanya diberi porsi melihat, mendengar dan menikmati. Cukup di situ !. Selebihnya sudah bukan merupakan domain warga negara dalam proses pengambilan-pengambilan keputusan strategis dalam ranah politk dan kekuasaan.

Proses negosiasi yang berlangsung di behind stage menjadi pemandangan kabur bagi warga negara. Itu tak terlepas dari prinsip dasar politik bahwa panggung belakang lah yang menjadi kekuatan utama dalam proses pengambilan keputusan maupun negosiasi-negosiasi super penting di ranah tesebut. Alangkah menyedihkannya-jika benar adanya- menyaksikan "testimoni legowo" seorang tokoh nasional dalam sebuah acara di televisi swasta nasional dalam proses negosiasi politik pencawapresan kemarin.

Sah dan "adil" dalam proses politik jika melihatnya dari kacamata "legalitas politik" proses tersebut. Karena memang seperti itulah realitas dalam berbagai keputusan dan negosiasi politik. Hati nurani yang menjadi sisi tersensitif manusia seakan terus semakin menjauh dari warga perpolitik di negeri ini.

Tidak ada pihak manapun yang bisa "melawan" arus kekuatan partai politik karena sistem politik yang terlanjur kita anut saat ini memang memberi "kekuasaan" besar partai politik. Hanya mereka-mereka yang mau terhalunasi dengan "permainan" partai politik saja yang seyoginya patut disalahkan. Atau apakah si tokoh itu sendiri yang terlanjur masuk dalam "kooptasi" partai politik hingga pada akhirnya mengalami "luka politik" mendalam seperti saat ini ?

Merubah Framing Media Massa.

Dinamika politik yang baru mulai tahap "pemanasan mesin" saat ini sejatinya tidak akan mengalami proses yang terlalu panas jika tidak ada faktor intermediate bernama media massa. Jika mencoba melakukan flashback pada proses yang hampir sejenis empat tahun lalu, peranan media massa-baik mainstreame maupun digital- begitu strategis. Penyajian produk-produk jurnalistik yang disuguhkan pun diiringi dinamika di dalam internal redaksi media massa juga.

Pengkotak-kotakan media massa kala itu seakan menjadi "dosa" media massa yang tidak akan mudah terlupakan. Segala kebijakan redaksional media akan mudah diurut dan dicari "warna" nya dalam proses kontestasi Pilpres kala itu. Berbagai pandangan dari para pihak yang mempunyai arsir dengan media massa pun "dikebri" atas nama kebebasan.

Lalu apakah dosa sejenis akan terulang kembali dalam proses kontestasi politik bagi partai politik maupun Pilpres mendatang ? Perlu ada keberanian dari pelaksana tanggung jawab keredaksian di media massa untuk memulai merubahya meski itu akan memiliki konsekuensi dalam berbagai hal, terutama kepentingan pemilik media yang terlanjur bermetamorfosa menjadi mahkluk "ambivi" saat ini. Kecerdasan dan keberanian untuk mereduksi kepentingan di luar otoritas redaksi menjadi tantangan tersendiri.

Memaknai proses politik hanya dari kacamata front stage terasa hambar dan garing apalagi media massa mengambil penuh sisi tersebut. Propaganda dan argumentasi yang keluar dari mulut para politisi sejatinya tidak bisa dimaknai sebagai sebuah kebenaran absolut dan secara vulgar direkonstruksi media secara sederhana. Proses dan dinamika yang sejati terjadi di belakang layar lah yang sesungguhnya. Karena di situlah titik-titik krusial sebuah konsesus politik terjadi.

Akan menjadi kemasan menarik dan memberi pencerahan bagi publik manakala secara objektif, fair dan bertanggung jawab, media massa menyuguhkan realitas-realitas politik yang sesungguhnya dan bukan sekedar bahasa eufemisme dari para politisi yang selalu dikutip.

Peristiwa "testimoni legowo" yang baru saja terjadi, setidaknya memberi referensi nyata bahwa gejolak dan dinamika sesungguhnya benar adanya dan setidaknya membuat publik "terpelongo" atas apa yang terjadi di sekat-sekat kepentingan para politisi partai politik.

Meski publik bersyukur atas adanya "kejutan" tersebut, namun pada prinsipnya hal-hal seperti ini tidak akan dengan mudah diperoleh dan diframing media massa secara massal seperti saat ini. Faktor "luck" media karena adanya dorongan kuat dari sang tokoh untuk mengungkapnya ke publik lah yang menjadikan segala sesuatu di balik sebuah konsesus politik ternyata complicated. Lalu apakah momen-momen seperti ini bisa terulang ?

Tampilan media yang mengedepankan pencerdasan publik menjadi pertaruhan tersendiri bagi media saat ini. Publik sudah sangat faham adanya "afiliasi" media dengan partai politik karena kebijakan liberalisasi media massa yang terlanjur kita terapkan. Apakah media massa akan mengulang "dosa" partai politik dengan mengkerdilkan alam kesadaran dan ketajaman berpikir publik dengan suguhan produk-produk jurnalistik yang menjauhkan fungsi media itu sendiri ?.

Tentu tarik-menarik kepentingan dalam proses idealisme media tersebut akan berjalan penuh tantangan karena begitu tebalnya arsiran media dan politik tanah air saat ini. Akan tetapi akan menjadi "kuburan" pula bagi media massa jika terus membiarkan kooptasi pemilik modal plus "pemilik" partai politik.

Sebagai sebuah lembaga yang memberi makna dari kehidupan sosial kemasyaratakan, kiranya media massa sejatinya tidak harus terlalu "mempermalukan" dirinya sendiri dengan memainkan makna hati nurani publik.

Tantangan dan ancaman besarpun sedang dan sudah berlangsung saat ini dengan begitu strategisnya keberadaan media sosial (social media) yang kini menyertai kehidupan warga. Arus "urbanisasi" pemakai media dari media massa kepada media sosial dikhawatirkans semakin cepat bergulir jika media media masa terus memberi stimulus dengan mengorbankan peranan strategisnya sendiri.

Atau malah mungkin saat ini secara tak disadari,, media massa sudah "tersandera" oleh media sosial ?. Semoga tidak sampai bermuara ke arah tersebut.

Praktisi Media/Mantan Ketua IJTI Sumut
Editor: Amrizal

T#g:KonsesusMatatelingaTerkini
Komentar
Jumat, 18 Jan 2019 18:13Berita Sumut

Polisi Didesak Segera Tangkap Sintong Gultom

Sekelompok pemuda dari Forum Mahasiswa dan Pemuda Peduli (Formasi) Tapanuli Tengah berunjuk rasa di Mapolda Sumut, Jumat (18/1/2019). Mereka mendesak agar polisi segera menangkap Sintong Gultom, tersangka kasus perjalanan fiktif DPRD Tapteng yang saat ini

Jumat, 18 Jan 2019 18:00Internasional

Karyawan Perusahaan China Dihukum Merangkak di Jalan, Kenapa...

Karyawan di sebuah perusahaan mungkin akan menerima kemarahan dari si bos atau yang terburuk akan mengalami pemotongan gaji jika tak mampu mencapai target yang telah ditetapkan. Namun, hal tersebut merupakan suatu yang wajar.

Jumat, 18 Jan 2019 17:45Nasional

Presiden Jokowi: Kembali Buka Stasiun Cibatu yang Sempat Pakum

Presiden Joko Widodo (Jokowi) membuka kembali (reaktivitas) jalur kereta api (KA) yang pernah ditutup di sejumlah stasiun yang dipusatkan di Stasiun Cibatu, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Jumat (18/1/2019) siang.

Jumat, 18 Jan 2019 17:30Nasional

Akhirnya Pembebasan Ustadz Abu Bakar Ba'asyir di Setujui Presiden Jokowi, ini Kata Keluarga Besar

Keputusan Presiden Joko Widodo yang menyetujui pembebasan Ustaz Abu Bakar Ba'asyir disambut gembira oleh pihak keluarga besarnya.

Jumat, 18 Jan 2019 17:15Lifestyle

Tidak Hanya Lelaki yang Bisa Jadi Kernet Mobil, Yuk Intip Kernet Cantik & Hot Satu ini Asal Jepang Loh...

Biasanya sopir truk identik dengan pria, karena terkesan sebagai pekerjaan yang keras dan kasar. Sopir truk pun sangat identik dengan minuman keras dan asap rokok.

Jumat, 18 Jan 2019 16:45Lifestyle

Kata - Kata ini Sontak Viral di Warga Net, Pasca Depat Pilpres 2019

Seperti yang telah diketahui, pada Kamis 17 Januari 2019 malam debat perdana antara paslon pilpres 2019, Jokowi-Ma’aruf Amin serta Prabowo-Sandiaga Uno.

Jumat, 18 Jan 2019 16:45Berita Sumut

Diduga Stres, Rahmad Wijaya Nekat Gantung Diri

Rahmad Wijaya Syahputra (38) warga Pasar 7, Dusun VI, Desa Patumbak I, Kecamatan Patumbak Deliserdang nekad mengakhiri hidupnya dengan gantung diri. Warga di kawasan itu menduga Rahmad nekat gantung diri lantara stres.

Jumat, 18 Jan 2019 16:30Berita Sumut

Universitas Terbuka Medan Tawarkan Bantuan Untuk Guru PAUD

Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi MH menerima kunjungan Kepala Unit Program Belajar Jarak Jauh (UPBJJ) Universitas Terbuka (UT ) Medan Dra Sondang P Pakpahan MA di Rumah Dinas Wali Kota Jalan Sudirman Medan, Jumat (18/1). Selain ingin memperkena

Jumat, 18 Jan 2019 16:15Berita Sumut

Dalam Dua Pekan, Polres Sergai Ringkus 16 Tersangka Narkoba

Dalam kurun waktu 9 hingga 18 Januari 2018, jajaran Polres Sergai meringkus 16 orang pelaku narkoba. Dari para tersangka, polisi menyita sebanyak 15,26 gram sabu dan 2,7 gram ganja kering.

Jumat, 18 Jan 2019 15:51Berita Sumut

Oppung Sudiono Tewas Dibantai Tetangga, Tiga Cucunya Alami Luka Tusuk

Kasus pembunuhan terjadi di Desa Sigotom Julu Kecamatan Pangaribuan Kabupaten Tapanuli Utara, Jumat (18/1/2019) dinihari. Satu orang warga dilaporkan tewas, sedangkan tiga lainnya mengalami luka akibat peristiwa pembunuhan itu.

Jumat, 18 Jan 2019 14:59Nasional

Panglima TNI : Prajurit Korpaskhas Menjadi Yang Terdepan Dalam Setiap Medan Pengabdiannya

Prajurit-prajurit komando tidak pernah ragu menjadi yang terdepan dalam setiap medan pengabdian menjaga dan mempertahankan keutuhan NKRI. Walau bagaimanapun rintangan dan tantangan, tidak sedikitpun membuat gentar para prajurit komando kebanggaan rakyat

Jumat, 18 Jan 2019 14:38Berita Sumut

Kombes Yuli Lebih Takut Didoakan Orang yang Teraniaya

Dirlantas Polda Sumut Kombes Pol Yuli Kurniawan yang baru menjabat kurang lebih sebulan di DitLantas Polda Sumut akan membuat semua personel menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Jumat, 18 Jan 2019 14:20Berita Sumut

Tak Kapok Merampok, Kaki Residivis Ini Dibedil Polisi

Meski sudah dipenjara dua kali, ternyata tidak membuat HA alias Iwan (29) kapok untuk melakukan aksi perampokan. Iwan tetap beraksi kembali baru-baru ini. Namun kali ini warga Jalan Pertempuran Kelurahan Pulo Brayan Kota, Medan Barat ini mendapat balasa

Jumat, 18 Jan 2019 13:56Nasional

Bakal Diterapkan, Peserta BPJS Kesehatan Akan Dikenakan Biaya Ketika Berobat

Kepala Humas BPJS Kesehatan M Iqbal Anas Ma’ruf menerangkan, ketentuan urun biaya itu diberlakukan bagi jenis pelayanan kesehatan yang dianggap dapat menimbulkan penyalahgunaan. Akan tetapi, saat ini, kata dia, urun biaya memang belum diberlakukan, karena

Jumat, 18 Jan 2019 09:28Nasional

Wujudkan Kerukunan Antar Umat Beragama, Bakamla RI Rayakan Natal

Sebagai bentuk kebersamaan dan kerukunan antar umat beragama, Bakamla RI melaksanakan perayaan Natal secara sederhana di Markas Komando Badan Keamanan Laut Republik Indonesia, Jalan Proklamasi, No.56, Jakarta, Kamis (17/1/2019).

Jumat, 18 Jan 2019 08:23Berita Sumut

Dua Aktivis Peras Pegawai Kemenag Asahan Masuk Sel Tahanan Polisi

Dua orang yang mengaku aktivis di jebloskan ke dalam sel tahanan Polres Asahan, kedua orang yang mengaku aktivis tersebut diantaranya MKUD alias Umam ,21, mahasiswa Fakultas hukum UNA warga jalan KH.Agus Salim kelurahan Selawan Kota Kisaran Timur dan EH