• Home
  • Opini
  • Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

Peran Media Massa Dalam Memberantas Aksi Terorisme di Indonesia

Mayor Inf Suwandi Jumat, 06 Juli 2018 15:35 WIB
mtc/ist
Mayor Inf Suwandi (Pasilakpin Subdit Opini Bidpenum Puspen TNI)
Oleh :
Mayor Inf Suwandi (Pasilakpin Subdit Opini Bidpenum Puspen TNI)
 
 
MATATELINGA : Terorisme merupakan musuh dunia yang tidak mengenal batas wilayah dan undang-undang suatu negara.  Aksinya dapat terjadi di negara mana saja yang mereka targetkan, tidak terkecuali di negara Indonesia tercinta.  Indonesia berkali-kali dijadikan sasaran empuk oleh kelompok teroris, tercatat dari rentang waktu tahun 2000 hingga 2018 sudah banyak bom meledak di Indonesia, antara lain bom Bursa Efek Jakarta tahun 2000, Plaza Atrium 2001, Hotel JW. Mariot 2003, di depan Kedutaan Australia 2004 dan bom Bali tahun 2005.  Kejadian terakhir yang baru-baru ini terjadi yaitu serangan teror bom bunuh diri yang terjadi di tiga gereja di Kota Surabaya, Markas Polrestabes Surabaya, penyerangan di Polda Riau dan ledakan bom rakitan di Rusun Wonocolo, Sidoarjo, Jawa Timur.
 
Menurut Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Suhardi Alius dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi III DPR pada tanggal 30 Mei 2018, aksi teror yang terjadi di Indonesia dalam satu dekade terakhir dilakukan oleh jaringan terorisme yang berbeda-beda. Menurutnya, ada 5 (lima) jaringan teror yang saat ini masih aktif yaitu Jamaah Islamiyah (JI), Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Jamaah Ansharut Syariah (JAS), Mujahidin Indonesia Timur (MIT) dan sel-sel di bawahnya. Semuanya secara jelas mengajarkan paham radikalisme.
 
Dari apa yang disampaikan Kepala BNPT tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa faham radikalisme dan terorisme berkembang subur di Indonesia. Kegiatan mereka terencana dan terstruktur, mereka terus bergerak membuat jaring dan sel-sel baru dengan merekrut anak-anak muda sebagai anggota. Mereka mendoktrin siap mati membela agama dengan dasar dalil-dalil yang disalah artikan, membenarkan kekerasan, menyerang membabi buta bahkan tidak ragu-ragu mengorbankan sanak keluarga dalam mencapai tujuan perjuangannya.
 
Dalam mengembangkan kegiatannya mereka memanfaatkan media sosial menyebarkan faham-faham radikalisme untuk mempengaruhi orang lain agar  masuk ke kelompoknya. Terbukti, pengaruhnya sudah masuk ke kampus-kampus perguruan tinggi. Menurut data BNPT ada 7 (tujuh) Perguruan Tinggi yang sudah terpapar radikalisme dan baru-baru ini ada 3 (tiga) orang alumni Universitas Riau (UNRI) ditangkap Densus 88 karena menyimpan perangkat untuk aksi teror di Ruang Gelanggang Mahasiswa yang berada di lingkungan kampus.
 
Tidak hanya di media sosial saja, para teroris juga memanfaatkan media televisi, cetak dan online untuk mengekspos aksi teror yang dilakukan dengan harapan eksistensi kelompoknya diketahui masyarakat luas atau dengan kata lain media dimanfaatkan untuk menyebarkan alasan ideologi dan tujuan dibalik aksi teror yang mereka lakukan.
 
 
Hubungan Media Massa Dengan Terorisme
 
Terorisme dan media dapat dikatakan memiliki hubungan simbiosis mutualisme yang bersifat  tidak langsung. Media membutuhkan bahan berita yang menarik untuk disajikan ke khalayak umum, di sisi lain para pelaku teror membutuhkan publisitas untuk menunjukkan eksistensinya.  Teroris memanfaatkan media secara aktif maupun pasif. Pemanfaatan media secara aktif melalui publikasi mereka ingin menyampaikan pesan-pesan ketakutan kepada khalayak luas; mempolarisasi pendapat umum; mencoba menarik anggota baru pada gerakan teroris; mengecoh aparat keamanan dengan menyebar informasi palsu; membangkitkan keprihatinan publik terhadap korban untuk menekan agar pemerintah melakukan kompromi atau konsesi sesuai yang mereka inginkan; mengalihkan perhatian publik dari isu-isu yang tidak dikehendaki dengan harapan berita teror mereka mengisi halaman depan media; dan membangkitkan kekecewaan publik terhadap pemerintah.
 
Sedangkan pemanfaatan media secara pasif diantaranya sebagai jaringan komunikasi eksternal di antara kelompok teroris, mempelajari teknik-teknik penanganan terbaru terhadap terorisme dari laporan media, mendapat informasi tentang kegiatan terkini aparat keamanan menghadapi teror yang sedang mereka lakukan, menikmati laporan media yang berlebihan terkait ekses dari aksi teror hingga menciptakan ketakutan masyarakat dan mencegah keberanian aparat kemanan secara individu, mengidentifikasi target-target selanjutnya dan mencari tahu reaksi publik terhadap tindakan mereka.
 
Ada dua tujuan penting mengapa teroris memanfaatkan media massa, pertama, aksi teroris tidak hanya ingin diketahui oleh publik tetapi juga sarana penyampaian pesan dan motif dibalik tindakan mereka. Tindakan bom bunuh diri yang dilakukan akan menimbulkan pertanyaan di benak khalayak tentang motif tindakan mereka. Media melalui frame pemberitaan yang dikembangkan akan memberikan penjelasan mengenai motif yang dimiliki oleh para teroris tersebut.
 
Tujuan kedua adalah mendapatkan hormat dan simpati publik yang mempunyai pemahaman yang sama secara potensial akan mendukung aksi teror yang mereka laksanakan. Kelompok yang memiliki akar ideologi, faham serupa atau memiliki tujuan yang sama dengan para pelaku teror berpotensi untuk memberikan rasa hormat dan simpati yang akhirnya dengan kesadaran pribadi bergabung dalam kelompok tersebut.
 
Melalui media, pesan teroris dapat disebarluaskan lebih cepat dan lebih meyakinkan. Penyebaran berita yang memuat pesan para teroris tersebut menunjukkan peran penting media dalam "mendukung" aksi teror.  Selain itu, dengan ekspos media yang berlebihan dapat membantu kelompok teroris untuk mengembangkan kelompoknya semakin besar dan berani untuk melakukan aksinya.   
 
Hal inilah salah satu yang diprediksi menjadikan kelompok-kelompok teroris berkembang subur di Indonesia seperti yang disampaikan peneliti terorisme dari Yayasan Prasasti Perdamaian, Taufik Andrie. "Belum ada situasi yang menunjukkan kelompok-kelompok teroris mengalami kelemahan dan vakum tetapi mereka hanya sebatas mengalami hibernasi, dan itu pun hanya terjadi pada kelompok-kelompok besar seperti Jamaah Islamiyah, tapi kalau kelompok-kelompok sempalan lain, mereka terus tumbuh sepanjang waktu". Untuk mencegah berkembangnya faham radikal dan terorisme perlu upaya pencegahan yang maksimal dari pemerintah dan seluruh komponen masyarakat termasuk yang terpenting adalah peran media massa.
 
Bagaimana seharusnya posisi media dalam pemberitaan terorisme sehingga bisa memberikan kontribusi positif bagi ketahanan nasional ?  Berdasarkan Undang-Undang RI no. 40 tahun 1999 tentang Pers pada  pasal 9 ayat 1 khususnya alenia 2 menjelaskan bahwa Pers Nasional mempunyai fungsi dan peranan yang penting dan strategis dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Untuk itu terkait terorisme, media massa memiliki kesempatan dan tanggung jawab untuk turut serta membatasi persebaran faham terorisme dengan pemberitaan yang lebih bersandar pada kesadaran moral, sebaiknya reportase yang terkait teroris dipilah sebelum disiarkan dengan tetap mengutamakan kepentingan nasional.
 
Dalam kasus terorisme, pemberitaan media semestinya tidak hanya mengedepankan aspek bisnis semata atau menaikan rating namun media harus bisa memberikan kritik dan masukan bagi pemerintah dan masyarakat bagaimana menyikapi kasus terorisme. Peran media dalam pemberitaan terorisme diharapkan tidak menimbulkan ekses negatif bagi pemirsa/pembaca, dan diharapkan dapat mencegah lahirnya teroris baru karena terinspirasi oleh pemberitaan.
 
Kompetisi dan kecepatan menuntut media bekerja dengan lebih baik agar bisa bersaing. Dalam kompetisi, materi berita yang menarik akan menentukan kemampuan untuk menarik publik. Kecepatan menuntut media untuk mendapat berita dari sumber pertama dalam tempo yang singkat.  Aksi terorisme menjadi materi menarik bagi pemberitaan sekaligus membutuhkan kecepatan untuk menyiarkannya.  Oleh karena itu, media berlomba untuk mendapatkan kesempatan pertama dalam pemberitaan terorisme sehingga terkadang lengah dan konten-konten yang tidak boleh disiarkan malah ditampilkan tanpa sensor. Untuk itu, dalam mempublikasikan aksi terorisme media harus tetap berpedoman pada Undang-Undang RI no. 40 tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik sebagai landasan moral dalam publikasi.
 
Apabila terjadi aksi teror disuatu tempat pejabat Humas atau Kepala Penerangan di lingkungan yang terkait hendaknya segera mengumpulkan data-data yang valid, selanjutnya memberikan keterangan pers kepada awak media secepatnya. Hal ini penting agar informasi kejadian tersebut tidak dipublikasikan menurut opini pribadi awak media yang akhirnya informasi bergulir  liar  dan kemungkinan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab untuk membentuk opini publik sesuai kepentingan kelompoknya.
 
Terkait video rekaman CCTV kejadian bom bunuh diri di Mapolresta Surabaya yang viral menggambarkan kejadian sadisme yang dapat mempengaruhi psikologi negatif khalayak luas terutama anak-anak. Untuk itu hendaknya aparat tidak asal menyebarkan video aksi teroris melalui media sosial, sebelum adanya persetujuan dari pejabat yang berwenang atau pimpinan dari instansi yang bersangkutan, sehingga efek-efek negatif dari menyebarnya video tersebut dapat dihindarkan.
 
Wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistiknya harus berpedoman pada Undang-Undang Pers Nomor 40 Tahun 1999 dan Kode Etik Jurnalistik, dengan tujuan agar wartawan mempunyai rasa tanggung jawab dalam menjalankan profesinya, karena produk jurnalistik yang dipublikasikan di media massa memiliki efek yang luar biasa bagi masyarakat secara luas.
 
Selain itu fungsi Dewan Pers mempunyai peranan penting dalam mengontrol  dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik oleh insan pers.  Menurut Pasal 15 ayat (2) Undang-Undang Pers, Dewan Pers berfungsi antara lain; melindungi kemerdekaan pers dari campur tangan pihak lain, melakukan pengkajian untuk pengembangan kehidupan pers, menetapkan dan mengawasi pelaksanaan Kode Etik Jurnalistik. Fungsi tersebut harus benar-benar dilaksanakan dengan baik, apabila ada yang melanggar harus diingatkan dan diberikan sanksi sesuai peraturan dan Undang-Undang yang berlaku, agar pers di negara kita dapat melaksanakan tugasnya dengan seimbang dan bertanggung jawab.
 
Dari uraian diatas betapa pentingnya peran media massa dalam membantu membatasi berkembangnya teroris di Indonesia. Untuk itu media dalam memberitakan aksi terorisme harus wajar dan tidak berlebihan, berita yang disajikan harus tetap dalam kerangka menjaga ketahanan dan keamanan nasional serta kepentingan masyarakat, bangsa dan negara.
Editor: faeza

T#g:
Komentar
Selasa, 18 Sep 2018 20:35Berita Sumut

USM-Indonesia akan Gelar Konferensi Internasional Bidang Kesehatan

Sebagai bagian dari proses internasionalisasi, Universitas Sari Mutiara (USM) Indonesia akan menggelar konferensi internasional pertama di bidang kesehatan (First Sari Mutiara Indonesia International Conference on Health), pada 10 - 11 Oktober 2018 mendat

Selasa, 18 Sep 2018 19:04Berita Sumut

Asintel Kejatisu Leo Simanjuntak : Korupsi Bisa Dicegah Lewat Pendampingan TP4D

Korupsi bisa dicegah dengan pendampingan TP4D. Setiap SKPD bisa memanfaatkan pendampingan dari Kejaksaan untuk setiap proyek yang dijalankan.

Selasa, 18 Sep 2018 18:34Berita Sumut

Gubsu, Wali Kota & Bupati Deli Serdang Bersinergi Atasi Banjir

Masalah banjir yang menerpa Kota Medan, Sabtu (15/9) dan Minggu (16/9), mendapat perhatian serius Gubsu Edy Rahmayadi dan Wali Kota Medan Drs H T Dzulmi Eldin S MSi, terutama banjir yang diakibatkan meluapnya Sungai Babura. Selasa (17/9), Gubsu dan Wali K

Selasa, 18 Sep 2018 17:36Berita Sumut

Nelayan Kapal Pukat Trawl di Belawan Takut Melaut

Ratusan kapal ikan yang berpangkalan di Sei Deli, Kampung Kurnia Kelurahan Belawan Bahari Kecamatan Medan Belawan tidak melaut karena takut terjaring operasi gabungan.

Selasa, 18 Sep 2018 17:10Berita Sumut

Penertiban Lapak Pedagang di Kawasan Stadion Teladan Diwarnai Kerusuhan

Kerusuhan mewarnai penertiban lapak pedagang yang berdiri di atas trotoar jalan di Kawasan Stadion Teladan Medan, Selasa (18/9). Personel gabungan yang terdiri dari petugas Satpol PP, Dinas Perhubungan, Kecamatan, kelurahan dan aparat Kepolisian mendapat

Selasa, 18 Sep 2018 16:57Berita Sumut

Kejati dan Pemprov Sumut Bersinergi Wujudkan Pemerintahan Bersih

Wakil Gubernur Sumatera Utara (Wagub Sumut) Musa Rajekshah membuka kegiatan Konsultasi Bakohumas Provinsi Sumatera Utara dengan tema ôStrategi Pencegahan Korupsi Melalui Tim Pengawal dan Pengaman Pemerintahan dan Pembangunan Daerah (TP4D) Kejaksaan Tinggi

Selasa, 18 Sep 2018 16:33Berita Sumut

IPW Sesalkan Polisi Biarkan Aksi Demo di Kantor SKH Waspada

Indonesia Police Watch (IPW) menyayangkan jajaran Polda Sumut yang membiarkan aksi demo massa menolak kehadiran Sandiaga Uno ke kantor SKH Waspada di Medan, Selasa (18/9).

Selasa, 18 Sep 2018 16:17Berita Sumut

Preman Terminal Amplas Bakal Digempur Habis

Para preman dan pelaku kejahatan yang kerap meresahkan warga di seputaran Terminal Amplas bakal tidak tenang. Pasalnya Kapolsek Patumbak AKP Ginanjar Fitriadi berkomitmen menyikat habis para preman tersebut.

Selasa, 18 Sep 2018 16:05Berita Sumut

BPBD : 13 Kecamatan di Medan Masuk Kategori Rawan Banjir

Sebanyak 13 kecamatan di Kota Medan masuk dalam kategori rawan banjir. Ini disampaikan Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kota Medan, Fachruddin saat sosialisasi Sekolah Sungai kepada masyarakat yang berada di bantaran sungai, Selasa (18/9).

Selasa, 18 Sep 2018 15:40Nasional

Panglima TNI Apresiasi Prajurit TNI dan Polri

Apresiasi yang tinggi kepada seluruh prajurit TNI dan Polri selama kurun waktu 2018 karena telah memberikan yang terbaik dan kepercayaan yang tinggi kepada rakyat dan bangsa Indonesia.

Selasa, 18 Sep 2018 15:26Nasional

Kasad : Piala Panglima TNI 2018 Ajang Unjuk Prestasi dan Momen Tingkatkan Soliditas

Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad) Jenderal TNI Mulyono, memimpin upacara laporan kontingen TNI AD dalam rangka mengikuti kejuaraan Piala Panglima TNI tahun 2018 di Aula A.H. Nasution, Mabesad Jakarta Pusat, Senin (17/9/2018).

Selasa, 18 Sep 2018 15:05Berita Sumut

Seminggu Mesin HD ICU Paviliun RS Adam Malik Rusak, Keluarga Pasien Kecewa

Mesin cuci darah di ICU Gedung Paviliun Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) H Adam Malik sudah seminggu rusak. Lebih ironisnya, ada seorang pasien sebelumnya meninggal karena diduga jadwal cuci darah tertunda.

Selasa, 18 Sep 2018 14:52Nasional

Panglima TNI : Tingkatkan Prestasi Olahraga di Jajaran TNI

Tujuan yang ingin dicapai dalam pertandingan Piala Panglima TNI yang diselenggarakan setiap tahun yaitu meningkatkan prestasi olahraga, khususnya pada cabang-cabang olahraga yang dipertandingkan dan memilih serta menseleksi atlit-atlit potensial untuk per

Selasa, 18 Sep 2018 14:37Berita Sumut

Terima Aksi Guru Honorer, Ini yang Disampaikan Wabup Sergai

Wakil Bupati Serdangbedagai Darma Wijaya menerima aksi Komunitas Guru Honorer, Selasa (18/9). Dalam pertemuan yang digelar di Pantai Pondok Permai Kecamatan Pantai Cermin itu, Wabup menyampaikan sejumlah hal.

Selasa, 18 Sep 2018 14:26Lifestyle

Ho Teh Tiam Perkenalkan Kuliner Baru, Bingka Singkong

Pemilik Ho Teh Tiam di Jalan Mongonsidi Nomor 32 Medan, Endar Hadi Purwanto tak henti berinovasi dalam menyajikan makanan sehat. Setelah membuat Bolu Ketan yang lezat, kini dihadirkan juga Bingka Singkong.

Selasa, 18 Sep 2018 13:30Nasional

Koleksi Ulos Tua Langka Akan Dipamerkan di Museum Tekstil Jakarta

Nah, keindahan motif kain tenun Ulos, akan dipamerkan di Museum Tekstil, Jakarta, 20 September - 7 Oktober 2018. Barang yang ditampilkan adalah koleksi pribadi milik Devi Pandjaitan bersama Kerri Na Basaria.