• Home
  • Opini
  • Politik Identitas Dongkrat Out Put Sosialisasi Partisipasi Pemilih

Pilgubsu 2018

Politik Identitas Dongkrat Out Put Sosialisasi Partisipasi Pemilih

Eddy Iriawan Senin, 02 Juli 2018 21:45 WIB
mtc/ist
Eddy Iriawan

MATATELINGA : Banyak para pemangku kepentingan dalam proses demokrasi politik lokal berupa Pilkada Propinsi Sumatra Utara 2018 lalu bersuka cita mencermati angka partisipasi pemilih dalam ajang kontestasi politik tanggal 27 Juni lalu itu. Dari hasil rekapitulasi sementara sebelum perhitungan manual pemenenang Pilkada nantinya, rata-rata banyak pihak menyebutkan bahwa angka partisipasi warga Sumatra Utara untuk memilih mencapai angka di atas 64 persen. Setidaknya angka ini menunjukkan adanya peningkatan sangat berarti dari Pilkada sebelumnya tahun 2013 yang hanya mencapai 48. 50 persen-apalagi jika dibandingkan dengan Pilkada Kota Medan lalu.

Peningkatan angka partisipasi politik warga Sumatra Utara untuk memilih calon pemimpinnya seyogianya patut disyukuri. Apatisme dan kekecewaan terhadap out put dari proses pemilihan kepemimpinan politik, sebelumnya, sempat dikhawatirkan akan menjadi trigger keengganan masyarakat untuk menggunakan hak politiknya.

Setidaknya kalimat-kalimat yang kerap terlontar dari masyarakat bahwa "ikut tak ikut memilih, toh nasib masyarakat tetap begitu-begitu saja". Bahkan ada juga skeptisme - " siapapun yang terpilih, akan masuk penjara  dengan kasus-kasus pidana korupsi seperti gubernur-gubernur sebelumnya", ikut memmberi kontribusi rendahnya partisipasi pemilih.

Namun segela argumentasi ľargumentasi yang kerap berseliweran di tengah-tengah masyarakat ini seakan terbantahkan dengan menilik hasil sementara tingkat partisipasi pemilih. Kesadaran dan tanggung jawab untuk menentukan sosok pemimpin yang akan membawa propinsi ini lima tahun ke depannya seolah-olah terbangun dari tidur panjang.

Tentu ada  faktor-faktor yang ikut mempengaruhi kesadaran politik masyarakat sehingga harapan "ruh" dari rezim Pilkada langsung berupa partisipasi politik masyarakat yang tinggi mulai terlihat hasilnya.


Peran KPU Sumut


Sebagai lembaga yang diberi otoritas untuk menyelenggarakan ajang pesta demokrasi ini, peran KPU Propinsi Sumatra Utara untuk meningkatkan partisipasi pemilih sebagai salah satu indikator keberhasilan Pilkada cukup besar. Para komisioner telah melakukan berbagai pola sosialiasasi bersifat konvensional maupun sosialisasi digital untuk mencapai target mendongkarak angka partisipasi pemilih tersebut.

Selain sosialiasi ke media-media massa konvensional baik televisi, radio dan surat kabar, approach kepada pemilih juga telah dilakukan dengan memanfaatkan saluran komunikasi digital melalui media sosial yang belakangan dirasakan menjadi salah satu faktor penting dalam komunikasi massa dalam kontestasi politik seperti ini.

Juga diketahui KPU Sumut juga sudah semaksimal mungkin melakukan penjaringan untuk menarik perhatian para pemilih pemula dengan mendatangi langsung kampus-kampus maupun sekolah untuk memberi edukasi politik dini kepada mereka.

Tampaknya "trauma" minimnya partisipasi pemilih dalam Pilkada-Pilkada  sebelumnya menjadi motivasi KPU Sumut untuk tidak terjebak dalam kubangan "kegagalan" serupa yang pernah terjadi. Stigma sebegai lembaga yang hanya menjalankan rutinitas tahapan Pilkada sejatinya harus disingkirkan dari mindset penyelenggara.

Sudah seharusnya pemikiran-pemikiran yang dangkal untuk menjalankan kewajiban sebagai penyelenggara sebagai "text book" yang sudah turun-temurun dijalankan sejatinya harus dipinggirkan. Tanggung jawab moral kepada masyarakat sejatinya harus dikedepankan sehingga streotip bahwa KPU sekedar pemberi "stempel"  untuk mensahkan siapa pemimpin sebagai gubernur yang akan memimpin hampir 14 ribu penduduk di Sumatra Utara tidak pernah lagi muncul.Inovasi-inovasi terlihat sudah dilakukan dan semua pihak patut mengapresiasi KPU Sumut berikut capaian-capaianya yang sudah terlihat, setidaknya hingga saat ini .


Politik Identas "Menolong" KPU Sumut


Penulis sendiri sejujurnya tidak terkejut dengan capaian angka partisipasi pemilih yang terjadi dalam Pilgubsu kemarin tersebut. Capaian tersebut sejatinya sudah banyak terprediksi oleh banyak kalangan melihat konstalasi politik yang berkembang. Miniatur Pilpres 2019 menjadi framing yang terlanjur terbentuk untuk menganologikan proses Pilkada Sumatra Utara ini. Pemanfaatan politik identitas di Pilgubsu 2018 setidaknya dimanfaatkan bentul oleh pasangan calon untuk mendongkrat tingkat keterpilihannya.

Banyak faktor yang ikut mendinamisasi terbentuknya sekat-sekat politik berdasarkan identitas ini sedari awal. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, proses pemilihan presiden 2014 menjadi entry point munculnya praktek politik identitas ini. Pemanfaatkan politik identitas ini semakin diperkuat dengan Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu yang dinamika dan tensi politiknya sangat tinggi.

Fenomena politik identitas ini pun akhirnya bermuara juga ke Sumatra Utara dalam ajang Pilkada tahun ini.  Upaya membangun kesamaan nasib  berupa ketidakpuasaan dalam masyarakat yang merasa terpinggirkan  akhirnya membangun kesamaan dan tujuan untuk membentuk kekuatan berdasarkan kekuatan politiknya sebagai ciri-ciri politik identitas yang digambarkan Stuart Hall.

Kesamaan identitas yang paling "beraroma" dalam Pilkada Sumut kali ini berupa kesaman identitas agama dan suku. dan orang asli Sumut dan pendatang. Kekuatan identitas ini bagi  paslon Eramas menjadi amunisi yang sangat efektip membangun faktor yang "memaksa" pemilih untuk memilihnya. Di sisi lain, fenomena politik identitas ini sangat mempengaruhi rendahnya tingkat keterpilihannya bagi paslon Djoss.

Wacana politik identitas ini pada akhirnya tidak terelekkan dalam tingkat mikro sosial yang pada awalnya sangat dikhawatirkan akan menimbulkan friksi-friksi yang bisa berujung benturan sosial. Warga yang pada awalnya acuh dengan proses demokrasi lokal ini "ikhlas" untuk berduyun-duyun mendatangi TPS-TPS untuk memberikan hak suaranya.

Jika melihat dari demografi Propinsi Sumatra Utara, tidak sulit rasanya menyimpulkan hasil akhir dari pertarungan dua paslon jika acuan yang dipakai dalam preferensi politik pemilih menggunakan  identitas berdasarkan agama dan suka. Setidaknya dari hasil rekapitulasi sementara yang telah dilakukan, kesimpulan dari pemakaian terminologi politik identitas nyaris tidak meleset dengan melihat peta penyebaran suara dan penguasaan pemilih dari masing-masing pasangan calon.

Pasangan calon nomor urut 1 setidaknya tergambarkan menguasai daerah-daerah pesisir timur dan bagian selatan . Sebaliknya pasangan nomor urut 2 menguasai daerah sebaliknya yang tersebar di wilayah bagian tengah Propinsi Sumatra Utara.

Pemetaan kekuatan pemilih ini juga sebenarnya jauh hari  sudah terprediksi oleh berbagai lembaga survey terhadap kekuatan pemilih dari masing-masing pasangan calon. Meski begitu, setidaknya dari sebaran kekuatan yang ada saat ini,  pasangan nomor urut 2 mampu "menerobos" cerug di wilayah-wilayah yang identitas pemilihnya cenderung sebagai "loyalis" paslon nomor urut 1. Hal itu bisa disandingkan dengan persentase pemilih jika menggunakan identigas agama dan suku yang ada sebagai indikatornya.


Bijak di Media sosial


Dengan realitas hasil Pilkada Propinsi Sumatera Utara kemarin, semakin menguatkan kongklusi bahwa dalam berbagai diskursus politik sepanjang proses Pilkada kemarin, tampak yang dimunculkan  dalam "pertarungan" dua kandidat lebih dimonopoli isu-isu sentimen SARA yang semakin menjauhkan upaya menciptakan kohesi sosial.

Selain tentunya membangun berbagai isu-isu yang sangat bersifat personal tanpa menjangkau substansi yang diharapkan dari sirkulasi kekuasaan dari pemilihan tidak langsung melalui lembaga DPR/DPRD menjadi pemilihan langsung untuk menempatkan arena pertarungan gagasan dan ide yang lebih dikedepakan.

Meski akan sulit menghilangkan-jika tidak dapat dikatakan sebuah utopia-pemanfaatan politik identitas seyoginya para pemakai media sosial tidak menjadikan sebuah isu dominan yang dimainkan untuk memanipulasi pilihan bagi masyarakat.  Pemanfaatan isu-isu yang lebih substantif  berupa tawaran program ide dan gagasan untuk tata kelola pembangunan daerah untuk menghasilkan kepuasan publik dari aspek pelayanannya

Membangun preferensi rasional dalam menentukan dengan menjauhkan fakor emosional yang terlanjur terakumulasi pasca Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu seharusnya bersama-sama dibangun untuk meminimalisir preferensi tradisional  secara gradual. KPU sebagai regulator dalam ajang kontestasi politik di Sumatra Utara jangan pernah berhenti untuk terus mensosialiasikan kepada seluruh pihak bahwa Pilkada bermartabat dengan mereduksi isu-isu primordialisme.

Di sisi lain, sebagai pranata sosial yang leibh tua, media massa jangan pernah berhenti  menyebarkan informasi-informasi konstruktif untuk perbaikan proses jalannya Pilkada.Bukan sebaliknya malah menjadi lembaga yang "mengekor" atau malah menjadi lembaga pemberi justifikasi  pemanfaatan media sosal yang bijak.

Akhirnya  terlepas dari polemik dan dinamika yang sudah terjadi, kini warga Sumatra Utara patut bersyukur bahwa meski dibayangi isu-isu primordialisme yang rawan terciptanya konflik sosial, kekhawatiran tersebut tidak terbukti sama sekali. Kini warga Sumatra Utara tinggal menunggu apakah janji-janji politik dari calon yang memenangkan kontestasi politik lima tahunan ini bisa benar-benar mewujudkannya.

Kembali peran media massa dan media sosial untuk bersama-sama mengawasinya secara objektif dan menjauhkan isu-isu emosi sosial dalam kontrol sosial lima tahun ke depan di Sumatra Utara. (mtc)

Editor: faeza

T#g:
Komentar
Senin, 22 Apr 2019 15:52Berita Sumut

Tinjau Rekapitulasi Kecamatan, Wakapoldasu : Keseluruhan Berjalan Lancar

Wakapolda Sumut, Brigjen Pol Mardiaz meninjau penghitungan suara di tingkat PPK Kecamatan. Mardiaz,menegaskan sampai saat ini proses Pemilihan Umum (Pemilu) aman dan lancar.

Senin, 22 Apr 2019 15:30Berita Sumut

Sebar Hoax Bom Surabaya Pengalihan Isu, Oknum Dosen USU Dituntut 1 Tahun Penjara

Dosen USU Himma Dewiyana Lubis (45) dituntut setahun penjara akibat postingannya di media sosial yang dianggap melanggar UU ITE. Dia juga dituntut membayar denda sebesar Rp10 juta subsider 3 bulan kurungan.

Senin, 22 Apr 2019 14:54Berita Sumut

HUT Ke-55 Dharma Pertiwi, Momentum Eratkan Persaudaraan, Kesejahteraan dan Kemajuan Organisasi

Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-55 Dharma Pertiwi Tahun 2019, diharapkan menjadi momentum untuk lebih mengeratkan ikatan persaudaraan untuk kesejahateraan anggota dan kemajuan organisasi.

Senin, 22 Apr 2019 14:32Berita Sumut

Ketua DPRD Madina Sebut Presiden Tolak Pengunduran Diri Bupati Lewat Bobby

Permohonan pengunduran diri Bupati Madina Dahlan Hasan Nasution ditolak Presiden Jokowi. Penolakan itu disampaikan Presiden langsung via telepon menantu Jokowi, Bobby Nasution.

Senin, 22 Apr 2019 13:53Berita Sumut

Kawal Kotak Suara, Aiptu Martin Sembiring Kritis Alami Laka Lantas

Kapolda Sumatera Utara Irjen pol Agus Andrianto menjenguk Aiptu Martin Sembiring, anggota Babinkamtibmas Polres Padangsidimpuan yang kondisinya kritis dan tak sadarkan diri, pasca mengalami kecelakaan lalu lintas saat menjalankan tugas mengawal kotak suar

Senin, 22 Apr 2019 13:24Berita Sumut

Usai Pemilu, Eldin Berharap Istilah Cebong dan Kampret Dihilangkan

Walikota Medan Dzulmi Eldin berharap masyarakat menghilangkan istilah Cebong dan Kampret usai Pemilu. Kedua istilah ini dinilai sangat negatif dan telah mengkotak-kotakan masyarakat.

Senin, 22 Apr 2019 13:09Berita Sumut

Usai Bunuh Adik Ipar, Pria Sepuh Ini Serahkan Diri ke Polisi

Seorang pria tua berusia 76 tahun berinisial PS warga Dusun Bertungen Jehe I Desa Sukandebi Kecamatan Tigalingga, Dairi menyerahkan diri ke Kantor Polsek Tigalingga usai membunuh adik iparnya, Tiurmina Br Ginting (70) pada Minggu (22/4/2019).

Senin, 22 Apr 2019 12:46Berita Sumut

Ini Tanggapan Gubsu Soal Soal Surat Pengunduran Diri Bupati Madina

Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi hingga saat ini mengaku belum menerima surat pengunduran ‎diri Bupati Mandailing Natal, Dahlan Hasan Nasution secara resmi. Sejauh ini dia hanya mengaku mendengar dari berita.

Senin, 22 Apr 2019 10:00Lifestyle

Deddy Corbuzier Peluk Lucinta Luna

Lucinta Luna terlibat adu argumen dengan Deddy Corbuzier yang terlihat melalui Instagram Live milik pelantun Jom Jom Manjalita itu, Minggu (21/4/2019)

Senin, 22 Apr 2019 09:45Internasional

Akui Kekalahan, Presiden Pertahana Ukraina Turun Tahta

Presiden Ukraina Petro Poroshenko menerima kekalahannya dalam pemilu presiden

Senin, 22 Apr 2019 09:30Ekonomi

Bergerak 2 Arah Rupiah Pagi Ini ke Rp14.062/USD

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak dua arah (mixed) pada pembukaan perdagangan pagi ini

Senin, 22 Apr 2019 09:15Ekonomi

Usai Long Weekend, IHSG Menguat Tipis ke Level 6.511

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melanjutkan penguatan pada perdagangan pagi ini pasca-libur panjang

Senin, 22 Apr 2019 09:00Bola

Jadi Pahlawan, Zidane: Benzema Striker Terbaik Dunia

Pelatih Real Madrid, Zinedine Zidane, mengaku sangat terpukau dengan aksi Karim Benzema ketika timnya mengalahkan Athletic Bilbao

Minggu, 21 Apr 2019 23:45Lifestyle

Begini Reaksi Deddy Corbuzier, Usai Ditantang Lucinta Luna

Lucinta Luna tiba-tiba saja murka di Insta Story dengan mentag akun Instagram milik Deddy Corbuzier.

Minggu, 21 Apr 2019 23:30Bola

Hantam 4-0, Everton Permalukan Manchester United

Everton memetik kemenangan telak dengan skor 4-0 kala menjamu Manchester United di Goodison Park dalam laga lanjutan Liga Inggris 2018-2019

Minggu, 21 Apr 2019 23:15Nasional

Gelar Coblos Ulang, Prabowo-Sandi Tetap Menang

Memiliki jumlah suara terbanyak di Banten pada hitungan versi quick count, pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 02, Prabowo Subianto dan Sandiaga Uno